Saturday, 23 July 2016

Trip Carrebean of Java

Kisah perjalanan Trip Carrebean of Java atau Karimunjawa ini terjadi lima setengah tahun yang lalu.  Hahaha

Apa pulak!? Itu masa ketika yang dulu tambun sekarang singset, dan yang dulu singset sekarang tambah singset. Dulu jomblo merana sekarang bahagia tiada tara dan yang dulu PDKT sekarang udah nyusuin si dede. Yang paling drastis kemajuannya adalah, yang dulu mahasiswa, kerja banyak duit, punya pacar, dan jalan ke mana-mana.

Oya, sebelumnya terimakasih juga untuk perkembangan teknologi internet dan sosial media. 19 orang pelancong ini masih saling keep in touch di dunia maya.

Carrebean of Java adalah final part dari tulisan sebelumnya tentang trip Karimunjawa saya pertama kali bersama teman-teman kaskuser. Saya buat setengah dekade yang lalu. Tulisan ini juga sebenarnya sudah tayang beberapa hari setelah kami menyelesaikan trip. Hanya saja tidak saya posting di sini, tetapi di thread forum kaskus traveler sebagai laporan perjalanan kami.

Bagi yang belum baca bagian awalnya (jika susah mencari), berikut linknya di sini

Berikut kisah kami di Karimunjawa setengah dekade yang lalu. Selamat menyimak dan semoga berkenan. :p

Pagi hari di hari pertama tahun 2011. Awal tahun baru yang cerah. Hari ini kita akan menghabiskan seharian full keliling pulau dan bersenorkeling ria. Setelah bergantian mandi, kita sarapan dulu di alun-alun. Setelah itu berangkat ke pelabuhan nelayan yang jaraknya hanya beberapa meter saja dari alun-alun. Di sana guide dan ABK sudah tak sabar menunggu rombongan yang bersemboyan “'lugu outside liar inside'” ini. Habis keliatannya aja pada diem-diem, padahal…...

Matahari sudah tinggi saat kami meninggalkan pelabuhan nelayan. Hari ini kita hanya mencari spot snorkeling saja. Untuk sesi foto-foto, kami rencanakan besok di mainland. Tujuan pertama kami adalah pulau Menjangan besar yang tak jauh dari Karimunjawa. Di Menjangan besar kita akan bermain-main dengan hiu, Patrick, Nemo, dan Dori. Vina yang paling bernafsu untuk bermain air. Tetapi begitu kakinya masuk ke dalam air, betapa kagetnya dia karena dia merasakan serangan ikan mendadak. Kepanikan tergambar dari air wajahnya. Gimana kalo yang tadi gigit ikan hiu? Trus jarinya sudah hilang beberapa? Hahaha... Ternyata cuma ikan betok yang sedikit menggodanya. Ngga papa, Vin. Tak kenal maka tak sayang. Azeek..

Setelah puas bermain-main dengan hiu, kami melanjutkan ke spot berikutnya di belakang pulau Menjangan besar. Spot snorkeling di tengah-tengah laut. Di sana sudah ada tiga kapal lain yang tertambat. Tapi tak lama setelah kami datang, mereka langsung angkat jangkar. Ini adalah spot snorkeling pertama kami. Karena kalau di penangkaran hiu tadi hanya pemanasan saja.

Tak terasa tengah hari sudah kami lewati. Guide mengajak kami mencari tempat untuk istirahat sejenak sambil makan siang. Kami diajak ke Tanjung Selaka di tepi timur pulau Karimunjawa...

Setelah tenaga sudah full, kami kembali beraktifitas di pantai kecil nan eksotis ini. Kami bermain-main di pantai, perang pasir putih yang lembut, buat istana pasir *sebenernya lebih mirip kurungan ayam* dan tentu saja poto-poto. Di sinilah keliaran kami mulai terlihat. Satu demi satu pakaian dilucuti dan tanpa ragu mereka berpose sure dan berrrrani!

Sudah puas main dipantai, kami mau snorkeling lagi. Guide mengajak kami ke satu spot lagi di tengah laut, masih di sisi timur Karimunjawa. Ini adalah spot terakhir untuk hari ini. Setelah kami puas melihat pemandangan air bawah laut dengan ikan dan coral yang mempesona, ABK langsung mengantar kami pulang ke Pelabuhan.

Ketika kapal mendekati pelabuhan, betapa terkejutnya saat ketika melihat KMP Muria masih bersandar di tepi dermaga. Itu artinya hari ini Fery ngga nyebrang. Mungkin karena tidak mendapat ijin berlayar dari Syahbandar. Dan itu artinya semua jadwal keberangkatan kapal dari dan ke Jepara maju 1 hari. Dan itu artinya juga kita harus pulang lebih cepat.

Hari kedua (2 Januari 2011). Kita kesiangaaaaan...!!! harusnya jam 05.00 udah pada bangun dan beli tiket. Padahal tiket kapal untuk keberangkatan hari ini sudah mulai dari kemarin. Kita 19 orang, dan sempat-sempet kesiangan. Tetapi emang biasanya para wisatawan laut begitu. Hari ketiga biasanya pada tepar. Dengan harapan penuh, salah satu diantara kita pergi ke pelabuhan jam 06.00. Tapi betul saja, harapan sirna. Tiket sudah habis. Kami meratapi nasib di homestay.

Mau nggak mau kita akan pulang tanggal 4. Horeeee...!!! Kita semua seneng. Malah si Lova pengen selama di sini. Dasar naturalisasi. Dia mau bikin passport ke pak RT di pulau Tengah.

Okay, karena ga jadi pulang cepat kita lanjutkan cerita hari kedua.

Hari kedua kita nyari spot buat foto-foto seperti rencana awal. Masih dengan kapal dan guide yang sama (we don'’t like both of them, not recomended). Kita hanya di ajak berkeliling lagi-lagi di sebelah timur pulau. Kita mengunjungi; Pulau Gosong, Pulau Tengah, dan Pulau Cilik. Pulangnya kita mampir di Legon Lele. Semacam teluk yang banyak bakau mirip raja ampat papua (dimirip-miripin aja biar seneng). Di sini kita mendapat Lion Fish sepasang. Kalo kena durinya yang tiba-tiba berdiri ketika terancam, korban harus diinjeksi berkali-kali. Kalo engga, dia bisa nyanyi-nyanyi sepanjang hari sepanjang malam. Bahkan lagu yang nggak hapal atau nggak ada pun jadi hapal. Karena berbahaya, kita buang saja sepasang ikan itu.

Hari ketiga (3 Januari 2011). Harusnya hari ini kita pulang. Cuma karena kita ingin berlama-lama di sini (cynic), akhirnya kita pulang besok aja. Kita membuat rencana dadakan, mau snorkeling lagi. Puas-puasin sebelum besok pulang. Dan akhirnyaaaa... kita pergi ke sisi Barat Pulau Karimunjawaaa... Horeeee!!

Dengan kapal yang beda, lebih besar dan gagah, dan tentu saja dengan guide yang beda juga (yang ini recomended banget). Begitu kapal meninggalkan pelabuhan, kita langsung teriak-teriak. Wwoohoooo...” gelombangnya dahsyaaaaat!!! Pantesan aja dari kemaren gada yang berani ke sini. Sejauh mata memandang pun nggak ada kapal lain yang berani melaut. Di hari ketiga ini, kami seperti baru melakukan hopping island karena sensasinya ruaaarrrrr biasaaaa...

Kami mengunjungi pulau Cemara besar untuk bermain-main pasir, mencari telor penyu yang konon dijual ke penangkaran, dan tentu saja snorkeling. Lagi-lagi Vina digigit ikan bletok. Emang dia terlihat empuk sih. Jadi si ikan napsu betul sama dia. Terakhir kita mengunjungi Tanjung Gelam, sisi paling barat pulau Karimunjawa untuk menikmati keindahan sore hari. Di Tanjung Gelam, kita menemukan lagi keluarga besar Nemo. Ada lima ekor, 2 indukan dan 3 lagi anaknya. Mereka sedang bermain-main di anemon laut. Sesekali anak Nemo yang kecil bersembunyi di balik Anemon laut. Sebesar apapun gelombang laut mereka tak pernah jauh dari rumahnya. Sweet! Aktifitas terakhir kita adalah berpoto-poto di tebing karang yang menjulang.

Dengan Penuh kepuasan, kita kembali ke pelabuhan dengan perasaan yang campur aduk. Besok kita sudah tidak bisa lagi melewati hari-hari seperti tiga hari super owsem yang telah kami lalui.

Keesokan harinya (4 Januari 2011), kami berkemas-kemas dan untuk terakhir kalinya sarapan di alun-alun Karimunjawa. Dengan berbekal uang pas-pasan untuk pulang, kamipun dengan lapang dada harus angkat kaki dari Karimun Jawa. Good bye, Carribean of Java...! Kita telah meninggalkan sebagian hidup kita di sini. Tikno juga telah meninggalkan sebagian tubuhnya di sini. Tak akan terlupakan. Beberapa saat kemudian kita sudah berada di kapal Fery yang akan membawa kita kembali ke Jepara dan melanjiukan perjalanan ke tempat masing-masing. Kami berpisah di Pelabuhan Kartini dan siap menjalani kenyataan hidup.

The End

Friday, 22 July 2016

Trip Ujung Genteng: Melepas Tukik ke Samudera hindia (Part I)

Ujung Genteng seperti sebuah lokasi yang berada di ujung antah berantah. Ternyata tidak juga. Perjalanan pertama kaliku bersama teman-teman ke dari Jakarta ke Ujung Genteng kami tempuh dengan transportasi umum saja. Ya.. walaupun agak sedikit ngga umum dalam perjalanan setengah terakhir.

Transportasi dari Jakarta ke Ujung Genteng kami gunakan kereta api. Kereta api masih menjadi pilihan favoritku. Jika dalam perjalanan yang cukup jauh ada pilihan transportasi bus atau mobil dan kereta api, aku pasti memilih kereta api. Menggunakan kereta api berarti bebas macet, sehingga perjalanan cenderung lebih cepat.

Rute yang kami tempuh melalui Bogor, Sukabumi, kemudian Ujung Genteng. Kami berangkat menggunakan commuter line dari Jakarta menuju stasiun Bogor. Dari Stasiun Bogor, kita harus berjalan sedikit ke Stasiun Paledang yang hanya berjarak beberapa meter. Dari stasiun Paledang, kita lanjutkan perjalanan ke stasiun Sukabumi. Sudah sampai setengah perjalanan! Cepat, bukan?

Kami sampai di Sukabumi menjelang tengah malam. Sehingga harus tinggal dulu di kota mochi-mochi ini dan melanjutkan perjalanan keesokan harinya. Lucunya, kami berempat tinggal di rumah Lut yang baru ku kenal,  yang merupakan pacarnya teman kami, Jaka.
Apanya yang lucu?
ZABARR, KAK..

Kami berempat mengenal Jaka dengan cara dan di tempat yang berbeda. Ajeng mengenal Jaka di Bandung karena sama-sama kuliah di ITB. Ilham mengenal Jaka karena pernah berada di Halmahera dalam waktu yang bersamaan untuk pekerjaan mereka masing-masing. Sinta mengenal Jaka karena saat itu sama-sama bekerja di Lampung. Dan aku mengenal Jaka karena kami sama-sama berasal dari Cirebon? Temanku bilang bukan karena sempitnya dunia. Tetapi pergaulan kita yang begitu luas. Azeeek.. Hahaha...

Keesokan harinya, kami melanjutkan perjalanan setelah subuh. Kami menggunakan mobil saudaranya Lut. Lut dan beberapa anggota keluarganya juga turut serta. Karena sekalian mereka ingin bersilaturahmi ke rumah saudara mereka yang dekat dengan pantai Taimina Jaya. Untunglah mereka hobi jalan-jalan dan silaturahmi juga. Kami hanya menyumbang bensin saja waktu itu.

Beberapa bagian jalan sepanjang perjalanan dari Sukabumi menuju Ujung Genteng tidak terlalu mulus, namun perkebunan teh dan alam yang hijau membuat perjalanan ini lebih menyenangkan.

Sebelum mereka menurunkan kami di Ujung Genteng, kami sempat mampir di pantai Taimina Jaya. Pantai berbatu karang di sisi selatan pulau Jawa. Tempat wisata ini cukup ramai dikunjungi wasatawan. Keluarga Lut membuka perbekalan mereka. Santapan ikan segar, sambal, jengkol, dan petai membuatku kekenyangan dan sedikit terbuai oleh semilir angin pantai selatan Jawa.

Thursday, 21 July 2016

NGREBUS di Sukamantri (Final)

NGREBUS yang merupakan kependekan dari ngomongin rencana busuk, adalah celotehan dari salah satu anak SMK yang ikut melingkari api unggunku malam itu. Catatan ini akan berisi tentang interaksiku bersama mereka. Dan bagaimana mereka menyelamatkan dua hari hidupku di Sukamantri. Bisa ku bilang, mereka para malaikat penyelamatku.

Aku tertawa spontan ketika mendengar istilah yang baru ku dengar itu. Mungkin ngrebus adalah istilah gaul yang sudah populer sejak lama. Sayangnya aku baru mendengarnya.

Ketua rombongan yang pertama kali merapat ke perapianku ternyata guru mereka. Mereka adalah semacam siswa-siswi yang tergabung dalam organisasi pecinta alam. Dan berkali-kali mereka menganggapku demikian. Awalnya obrolanku dengan sang guru tidak jauh-jauh dari kegiatan pembelajaran di sekolah mereka. Aku salut dengan dedikasinya dalam mengabdi untuk pendidikan dan anak-anak di sekolah.

Kemudian saat aku bercerita tentang asal kelahiranku, obrolan berlanjut tentang sejarah hubungan kerajaan Pajajaran dan kesultanan Cirebon. Aku baru tahu ternyata selain Walangsungsang dan Rarasantang, Prabu Siliwangi memiliki anak juga yang bernama Kiansantang. Pantas saja aku pernah mendengarnya di salah satu seri drama televisi.

Satu anak lain ikut bergabung, “pada ngrebus ini teh? ngiring, ah!” Obrolan kami mencair menjadi topik yang jenaka. Arsil, setelah dipancing oleh gurunya, dia mulai curhat tentang asmara. “Aduh, pak. Jangankan ketemu sama orangnya. Saya teh kalo denger nama dia disebut saja rasanya hancur.” Rasanya pengen LOL dan ROFL atau ngakak guling-guling. Tetapi ketika ku lihat samar-samar keseriusan wajah Arsil dalam temaram api unggun yang mulai meredup, aku malah iba. Kemudian gurunya menimpali, “Begitulah Sil hidup teh. Kadang, ketika kita mencintai seorang wanita, teman kita juga mencintai dia.”

Sekitar tengah malam, obrolan kami terpotong karena masakan untuk makan malam mereka sudah siap. Aku pun turut diajak bersama mereka. Kita makan bersama di trash bag yang dipanjangkan. Menunya adalah nasi, mi goreng, ikan teri, dan beberapa iris sosis yang jarang ku lihat. “Kita teh tadi bawa banyak sosis, cuma yang dimasak dua butir aja. Sisanya ditampol (digado).”

Senang sekali rasanya diajak makan bersama. Karena bodohnya aku tidak membawa bekal sama sekali kecuali dua botol air. Tidak jadilah aku kembung masuk angin, pikirku. Aku ingat makanan yang masuk ke perutku baru tadi pagi saja.

Keesokan paginya, sepulang dari air terjun, saat aku melihat mereka sedang berkemas, aku melihat satu nesting menu makanan seperti semalam di dalam tendaku. Mereka bilang itu sarapan untukku. Kemudian ku dekati Arsil. Aku bertanya jika mereka punya kelebihan beras, biar ku beli saja. Karena rencananya aku akan memperpanjang satu malam.

Setelah lepas siang, mereka pamit pulang denganku. Satu-satu mereka menyalamiku. Salah satu dari mereka mengiringi momen ini dengan shalawat, “shallallah ‘ala Muhammad...”

Sejatinya kita tidak pernah sendiri. Selalu ada orang lain, melakukan hal yang sama dengan kita.

Tips dan Trik:

1. Silaturahmi itu mendatangkan rejeki. Bergaullah bersama pengunjung lain. Paling tidak kita sapa mereka.

2. Bawa perbekalan dan uang secukupnya. Di bumi perkemahan Sukamantri terdapat warung yang menjajakan makanan juga. Jika ingin praktis, bisa membeli makanan di sana.

3. Biasa tiket masuk per orang 20.000/ hari dan parkir sepeda motor 5000/ hari. Parkir mobil saya lupa tanya. Hahaha

Wednesday, 20 July 2016

Berkemah Di Sukamantri (Part II)

Bangun tidur dengan senyuman, seperti Jihan Fahira dalam iklan minuman penyegar panas dalam, itulah yang aku alami di hari keduaku berada di Sukman (sebutan anak gaul untuk bumi perkemahan Sukamantri). Begitu membuka resleting tenda, aku langsung melihat warna jingga kemerahan diujung langit timur dengan lembah hijau yang masih tersamarkan. Udara pun terasa begitu segar, walaupun tidak ada air terjun seperti yang dimiliki Jihan Fahira.

Drama perjalanan menuju ke bumi perkemahan Sukamantri kemarin seakan sirna. Bagi yang belum menyimak ceritanya, bisa baca Perjalanan Seru ke Sukamantri.

Aku bergegas ke toilet untuk mengambil air wudhu kemudian shalat subuh. Shalat di alam terbuka nan indah seperti ini tiada duanya. Aku benar-benar merasa kecil. Sayangnya, bayangan sunrise membuatku tidak tahan berlama-lama menghadap kiblat. Ternyata imanku baru sekuat itu.

Langsung ku ambil handphone yang sengaja ku flightmode dari semalam agar masih tersisa baterai untuk mengambil beberapa gambar. Jekrak jekrek, geser kanan kiri, naik ke atas turun ke bawah, kulihat hasilnya di layar, cantik.. cantik.... Setelah puas, aku kembali ke api unggun untuk menghidupkan api agar badan ini lebih hangat.

Sunrise view di bumi perkemahan Sukamantri. Penggoda Iman!
Ku lihat rombongan anak-anak SMK itu mulai bangun satu per satu masih dengan selimut mereka dan langsung bergerombol untuk saling menghangatkan. Aku mengemasi isi tendaku karena bayangan air terjun sudah meluncur dengan indah di kepalaku. Ku pastikan semua barang masuk ke dalam tas. Jangan sampai sekembalinya dari air terjun nanti, barang-barangku teracak-acak oleh monyet-monyet hutan. Iya, aku melihat mereka banyak sekali dan terlihat penasaran dengan aktifitas manusia dan barang-barangnya.



Aku pamit kepada para anak SMK, mereka sudah berbincang-bincang tentang menu masakan sarapan.

Aku mengikuti arah pipa air seperti yang dipesankan semalam oleh Pak Satpam, jika aku ingin pergi ke air terjun. Kemudian setelah aku tidak bisa melihat manusia lain lagi, jalan mulai setapak dan beberapa bagian terhalang oleh ranting dan dahan pohon, aku mulai merinding lagi. Setiap kali ada bunyi krasak krusuk, aku mulai waspada. Mungkin itu terdengar dilebih-lebihkan, tapi begitulah nyaliku.

Embun pagi yang masih belum terkena matahari karena rimbunan kanopi pohon membuat medan tanah dan batu yang menanjak terasa lebih licin. Beberapa kali aku tapalisi.

Satu hal yang membuatku ragu, sarang laba-laba seringkali menutupi jalan. Bukankah itu berarti jalan ini lama tidak dilalui manusia? Tetapi pipa air, pita yang sesekali ku temukan di batang pohon, dan daun yang tetanam di tanah membuat keyakinanku kembali. Ketika melewati sungai berbatu yang kering, aku mulai cemas. Akankah ku temui grojokan air terjun yang kepalaku bayangkan? Aku mulai menurunkan ekspektasi. Cinta bisa padam, sumber air pun bisa mengering. Bukankah begitu?

Sesampainya di air terjun, aku merasa menjadi makhluk lemah. Ku putarkan pandanganku, pepohonan menjulang tinggi, tampak gagah dan angker. Nyaliku ciut. Jika ada serangan apapun, matilah aku. Tidak ada satu orang pun yang akan datang memberikan pertolongan. Nyaliku ciut. Beberapa kali aku melakukan ritual permisi. “Tabe, saya mau lewat. Tabe.. saya mau duduk di batu besar ini. Tabe.. saya mau ikut makan dan minum di sini, ya. Hatur nuhun sadayanya, saya pamit dulu.”

Alhamdulillah, satu jam lebih saya aman duduk sendiri di batu besar itu, memperhatikan tawon yang mencari air di batu yang seharusnya menerjunkan air, memandangi kadal yang sigap menangkap nyamuk, dan menuliskan kisah perjalananku ini.

Alam begitu luas. Maha besar Tuhan yang menciptakan semuanya.

Tips dan Trik:

1. Isilah baterai handphone anda hingga penuh. Jika memiliki powerbank, bawa dalam keadaan penuh.

2. Untuk melakukan penanjakan, pastikan gunakan alas kaki anti selip.

3. Jika ingin ke air terjun, ikuti arah pipa. Pastikan jalan yang anda lalui pernah digunakan orang sebelumnya. Tandanya, ada jejak kaki yang masih segar dan dedaunan seperti terinjak oleh manusia. Beberapa batang pohon diikat oleh pita yang berwarna. Itu artinya jalan tersebut pernah digunakan orang lain.

4. Bersikaplah sopan dan santun jika berada di alam yang masih liar. Kita tidak ingin mengusik makhluk lain, bukan?

Final story perjalanan ini adalah NGREBUS di Sukamantri. Silahkan disimak. Hehe...

Sunday, 17 July 2016

Perjalanan Seru ke Sukamatri

Aku belum terlalu dekat dengan alam liar, hanya beberapa kali saja berkesempatan untuk menjelajahinya. Definisi alam liarku mungkin juga berbeda dengan kalian. Di usia yang sudah melewati seperempat hidup ini, aku merasa belum terlambat untuk menjelajah alam bebas yang harus terus kita lestarikan dan jaga sama-sama.

Ketika ada kesempatan untuk mensyukuri keindahan alam ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, aku ingin mencoba kembali kemping. Ku pilih lokasi yang tidak terlalu jauh dari Jakarta dan aku perkirakan tidak terlalu ekstrim, karena aku akan berke-liar-an seorang diri. Ku ketik 'camping' di laptop dan Google langsung menunjukkan bumi perkemahan Sukamatri di ketinggian 800an mdpl kaki gunung Halimun Salak, Bogor.

Aku baca beberapa cerita perjalanan orang yang sudah pernah ke sana. Kemudian mengecek lokasinya di Google maps. Setelah ku rasa cukup banyak informasi yang dibutuhkan, aku mengangguk dan membatin, inilah yang aku mau!

Beberapa hari kemudian ku kemas beberapa pakaian, alat mandi, nesting, kompor dan tabung gas hi cook, tenda, sleeping bag, senter, dan jas hujan ke dalam tas 35 literku. Setelah shalat ashar, aku beranjak dengan sepeda motor yang ku isi penuh bahan bakar terlebih dahulu.

Iya, aku pergi dengan Motor saja. Toh aku jalan santai. Tidak ada waktu yang ku buru. Aku akan menikmati perjalanan ini ((((SEORANG DIRI)))) MWIHIHIHI

Aku memilih rute yang melewati Pancoran dan tembus lurus melalui Jalan Raya Bogor, Kebun Raya Bogor, Bumi Perkemahan. Apa? Pancoran, Jalan Raya Bogor, Kebun Raya Bogor, Bumi Perkemahan!! Sekali lagi... Pancoran, Jalan Raya Bogor, Kebun Raya Bogor, Bumi Perkemahan!!! Berhasil! Berhasil! Hore!!!

Namun perjalanan tak semudah seperti yang diharapkan Dora. Kemampuan spasialku yang pas-pasan membuatku harus sering-sering menengok Google maps dan bertanya kepada orang. Terlebih rute dari Kebun Raya Bogor menuju Bumi Perkemahan.

Menurut cerita orang yang sudah pernah ke sana, beberapa kilometer menjelang lokasi, akan ditemukan jalan bebatu. Aku pikir akan biasa-biasa saja. Aku merasa telah melewati jalan terburuk dalam hidupku. Allahu akbaaar... Ternyata jalan yang ku tempuh menuju Sukamatri ini lebih buruk. Batu-batu besar membuatku ajluk-ajlukan di atas motor. Di tambah hari sudah gelap, kanan kiriku hutan, dan baru ku ingat ini malam Jumat.

Berkali-kali aku merinding ketika kepalaku memikirkan hal yang tidak-tidak tentang makhluk halus dan hewan buas. Aku takut kehabisan bensin dan tersesat di dalam gunung seperti yang sering diberitakan. Kan, tidak lucu kalau aku terkenal gara-gara tersesat di kaki gunung salak.

Setiap kali ku lihat cahaya, aku berharap itu tujuanku. Pertama kali ku dapati cahaya, ternyata itu milik orang yang sedang memuat pasir. Kedua kali pun demikian. Udara semakin dingin, jalan semakin berkelok dan menanjak, ditambah kabut mulai turun membuatku semakin gelisah. Bagaimana kalau ban motor kempes karena terhantam batu-batu runcing ini? Bagaimana jika motor mogok di tengah-tengah hutan yang gulita?

Ku lihat lagi ada cahaya di atas sana. Mudah-mudahan inilah dia. Tapi sengaja aku turunkan ekspektasi. Aku tak ingin kecewa lagi dan lagi. Sakit! Ternyata betul! Aku sudah sampai di Bumi Perkemahan Sukamatri. Alhamdulillah.. Kegelisahanku langsung sirna seketika. Bapak satpam datang membawa senter dari powerbanknya menyambutku.

Setelah sejenak beristirahat, mengobrol dengan satpam, membayar karcis, dan memarkir sepeda motor, satpam mengantarku untuk memilih lokasi untuk mendirikan tenda. Dia bilang ada 15 orang yang baru datang beberapa saat sebelumku. Aku memilih lokasi dekat dengan mereka. Jika aku mimpi buruk, paling tidak ada yang akan berbaik hati membangunkanku.

Tenda aku dirikan di undakan di atas mereka dan tidak terlalu jauh dari toilet. Setelah tenda berdiri aku bergegas shalat terlebih dahulu. Kemudian aku mencari kayu bakar untuk membuat api. Beberapa saat kemudian salah satu dari mereka menghampiriku, yang ternyata ketua amggota mereka. Disusul beberapa anggora lain mulai datang mengitari api. Kami berbincang-bincang hingga larut dan kembali ke tenda masing-masing. Tenang sekali yang ku rasakan. Udara segar, bunyi serangga malam, dan rasa lelah membuatku tak lama terhanyut dalam tidur lelap.

Tips dan Trik:

Perjalanan saya selalu berbau drama. Sebenarnya ada banyak cara praktis yang bisa orang normal gunakan. 1. Ajaklah teman atau keluarga untuk bepergian ke tempat baru yang letaknya jauh dari peradaban, seperti bumi perkemahan Sukamantri ini. Membawa teman akan lebih memudahkan banyak hal tentunya. Tetapi jika anda ingin merasakan perjalanan yang menantang adrenalin, ikuti saja saya.

2. Jika anda ingin menggunakan transportasai umum, ada banyak pilihan transportasi Jakarta-Bogor. Anda bisa menggunakan commuter line Jakarta-Bogor dan APTB. Kemudian dilanjutkan dengan angkot ke arah Ciapus sampai pertigaan di mana anda akan mulai menemukan jalanan jelek.

3. Benda yang wajib anda bawa ketika bepergian ke alam liar adalah pisau, korek api, senter, dan jas hujan

4. Lebih aman jika anda sampai di bumi perkemahan Sukamantri sebelum matahari tenggelam. Medan perjalanan lebih membahayakan jika dilakukan di malam hari.

Wednesday, 25 March 2015

Another Rural Story

I am assigned at Petrochina mining area of Jabung, Jambi. This place is supposed to be a thick wood, but they found oil and gas around the area. So, people are coming to gamble their life. They bought the soil to plant palm oil, and few years later (now) a new suburb civilization is existed. I am here as a consultant of the CSR company, or you can say now that I am one of the gambler of life.

Listrik baru masuk beberapa tahun yang lalu. Daya yang dialirkan masih belum sebesar PLN di kota-kota besar. Tiap hari jadinya hampir selalu mati lampu. Turun daya (listrik redup) hampir selalu terjadi di peak hour. Dari setiap keterbatasan itulah baru kerasa nikmatnya kecukupan dan kelebihan. Saya bersyukur pernah hidup, bahkan cenderung lebih lama hidup di daerah yang teraliri listrik dengan baik. Ini masih mending udah ada PLN, masih pada percaya ngga bahwa masih banyak peradaban-peradaban di Indonesia yang sama sekali belum teraliri listrik. TRUTH!!!

Nah, sedikit kisah lucu yang berhubungan sama listrik cenat cenut ini. Di kabupaten ini, hanya ada tiga ATM. Dua di ibu kota kabupaten, dan satu di daerah pertambangan ini. Tapi karena listrik ngga tersuply maksimal, jadilah keberadaan ATM ini cenat cenut juga.

Suatu hari saya kehabisan duit, dan dengan santai dan percaya diri saya pergi ke ATM. Sesampainya di depan pintu mesin, saya menemukan tulisan, "Mohon maaf mesin ATM untuk sementara tidak bisa di gunakan karena pasokan listrik dari PLN rendah. Sedangkan daya listrik terpasang 13.200 VA. Harap maklum. Terimakasih." Saya yang saat itu hanya memegang beberapa lembar uang seribuan lemah tak berdaya, harus kembali berjalanan kaki menuju rumah. Siyalnya, karena lapar, aku tergoda makan mie ayam bakso ditengah perjalanan. Karena pas juga bersamaan dengan waktu makan malam, ku tukarkan rupiah terahirku dengan semangkuk hidangan MSG surga itu. Dengan kepercayaan diri, besok juga pasti udah bisa ngambil di ATM lagi.

Keesokan hari, saya kembali menyambangi mesin uang itu. Ternyata mati total tidak bisa di pakai. Satpam bilang, biasanya pagi nyala. Hari itu aku masih beruntung masih punya dua butir telur, mie instan dan beras untuk makan. Besok saya harus dapat uang itu!! Saya bertekad demikian.

Keeskoan harinya aku bahagia melihat antrian di depan mesin. Itu berarti ATM berfungsi!! Antrian tidak begitu panjang, tapi setiap orang menggunakan jatahnya begitu lama. Aku si santai aja, yang penting hari ini akhirnya bisa ngeluarin duit. Yeyeyeye... Beberapa ibu-ibu antriers sudah gelisah menunggu. Beberapa menit kemudian tinggal satu orang lagi kemudian giliranku. Tapi kok ada bunyi 'tut... tut.." Mula-mula suara itu berbunyi dengan frekuensi jarang, lama-lama makin sering dan terdengar pengguna mengeluh dan panik. Transaksi terproses, tapi mesin mati sebelum mesin mengeluarkan uang. What the heck??!!! Woooy!! gw udah ngga pegang duit. Ngga mau tau pokoknya gw harus dapet duiiit!!!

Saya masuk ke dalam ATM dan memperhatikan bagian belakang. Oooh, mesin ini menggunakan UPS. Kalau begitu biar saya tunggu, sampai UPS terisi lagi. Tiba-tiba ATM nyala, starting windows, error blablabla... mati lagi!! Damn! Saya tunggu lagi, proses kaya di atas, dan berhasil! Tapi masih offline, masih belum bisa digunakan. Mauuu sampaiii Firaun pasang behel pun akan saya tunggu. Dan betul!!! beberapa saat kemudian (sekitar setengah jam) ATM bisa dipake, dengan secepat kilat saya melakukan transaksi, dan rupiahku keluaarrr!!!! Alhamdulillaaaaah.... Nasi padaaaang!!! I am coming!!!

See? Itu memang tidak menyenangkan. Tapi bagi saya, justru ada sengatan-sengatan hidup kaya gini yang pengen hidup terus berjalan. Enak kok hidup di tempat kaya gini. Mau mancing, tinggal nongkrong depan rumah, cari cacingnya di bawah kandang ayam belakang rumah. Mau makan sayur tinggal nanem, sebulan kemudian manen. Live yor life, people!!!

Tips hidup di plosok:
1. Ketika baru sampai di suatu daerah, carilah informasi tentang Bank dan ATM, transportasi ke kota, pasar, dan tempat yang menangkap banyak sinyal.

2. Sering-seringlah bertetangga. Kehidupan sosial sangat berbeda antara di kota besar dan di desa. Di desa, kamu punya banyak kesempatan untuk bersosialisasi. Masyarakat desa pun lebih terbuka. Keterbatasan juga membuat masyarakat desa masih sangat butuh saling tolong menolong. Kita butuh manusia lain, kan?

3. Daerah terpencil banyak menyimpan tempat-tempat eksotis. Menjelajahlah! Jangan terlalu banyak merenung di rumah. Ini kesempatan kamu untuk memandang alam bebas dan menikmati udara segar.

4. Bagi kamu yang susah nabung, hidup dan bekerja di daerah terpencil adalah kesempatan baik. Tidak ada banyak hal yang akan menggoda kamu untuk menghambur-hamburkan uang. Menabunglah!

5. Bagi yang hobi bercocok tanam, bisa memanfaatkan kesempatan hidup di plosok. Tanah di desa masih belum banyak terkontaminasi dan bisa didapat di manapun. Tidak harus memiliki kebun. Tanam saja sayur-sayuran dan tanaman herbal di pekarangan rumah dengan menggunakan barang-barang bekas. Rumah lebih hijau, mau masak pun lebih mudah. Hahaha

Tuesday, 16 September 2014

Trip Dieng: Salakanegara

Siapa yang masih ingat kerajaan tertua di Indonesia?

Pasti pada jawab Kutai. Ya, kan? Karena biasanya, kita diajarkan oleh guru SD kita begitu.

Aku baru tau, ternyata ada yang lebih tua dari Kutai di Kalimantan Timur. Dulu, di daerah provinsi Banten sekarang, ada sebuah kerajaan kecil yang pusatnya di daerah Pandeglang dan pusat perekonomian di Merak, namanya Kerajaan Salakanegara yang artinya negeri perak. Pandeglang sendiri artinya pande (ahli pembuat)-gelang dan Merak dari kata me-perak, membuat sesuatu dari Perak. Entah kenapa di pelajaran sekolah belum pernah disebutkan riwayat kerajaan ini.

Lokasi Pelabuhan Merak, Banten. Diambil dari google maps satelite.

Darimana aku tau? D-A-R-I M-E-M-B-A-C-A hahaha sejak kapan aku membaca? Tuntutan kebutuhan sebagain pemandu wisata sebenernya Karena sekarang I am heading Dieng to guide a tour.

Lalu apa hubungannya mau ke Dieng dan kerajaan pertama di Nusantara yang ternyata adalah Salakanegara? Good question!

Sebelumnya aku pernah dengar bahwa di sekitar Dieng inilah (dan beberapa lokasi yang disebutkan di sepanjang pantai utara Jawa Tengah) pernah berdiri sebuah kerajaan yang terkenal sampe ke daratan Cina, kala itu. Namanya Kerajaan Kalingga yang kemudian menjadi Medang dan sekarang lebih terkenal dengan nama Mataram. Kerajaan Kalingga-Medang ini mempunyai hubungan erat dengan kerajaan di daerah Jawa Barat. Dan kalau ditelusuri, akan tersambunglah dengan Salakanegara itu.

Salakanegara akhirnya menjadi Tarumanegara (kerajaan tertua ketua kedua setelah Kutai, kalau di pelajaran sekolah). Silahkan cari tahu sendiri apakah itu terjadi perebutan kekuasaan atau hanya perluasan wilayah dan pergantian penguasa. Nah, Tarumanegara ini di abad ke 7 (600an Masehi) berganti nama menjadi Kerajaan Sunda, di mana salah satu kerajaan kecil bawahannya adalah Kerajaan Galuh. Kemudian setelah satu tahun perubahan sejak nama Kerajaan Sunda terbentuk, Galuh memisahkan diri menjadi sebuah negara yang berdaulat.

Dari kerajaan Galuh ada cerita menarik. Cerita yang sering ditayangkan di sinetron-sinetron kita tercinta yang menemani malam-malam syahdu di Indonesia. Yaitu cerita tentang PER-SE-LING-KU-HAN!! Ahahaha itu yang aku pahami. Karena yang aku baca, ada salah satu raja Kerajaan Galuh bernama Mandiminyak.

Mandiminyak diceritakan menikah dengan Parwati, putri dari Ratu Shima penguasa Kalingga yang terkenal dengan kebijaksanaan dan keadilannya. Selain berisitrikan Parwati, Mandiminyak juga ternyata berhubungan serius dengan Pwahaci Rababu yang diceritakan sebagai permaisuri dari Raja Jatmika, seorang raja Kerajaan Galuh sebelum Mandiminyak. Lalu apa coba namanya kalau bukan perselingkuhan? Atau interpretasiku yang salah?

Mandiminyak dan Parwati melahirkan putra bernama Sanaha. Sedangkan dari Pwahaci melahirkan putri bernama Sana. Kemudian setelah akil baligh kedua anak itu dinikahkan. Kemudian dari perkawinan mereka melahirkan putra yang bernama Sanjaya.

Nama Sanjaya ku yakin sudah banyak yang sering dengar. Sanjaya menjadi penguasa Galuh dan Sunda yang sudah ditaklukan. Kemudian setelah neneknya, Ratu Shima meninggal, Sanjaya melanjutkan tahtanya.

Selanjutnya, bagaimana Sanjaya menjadi sebuah salah satu dinasti penguasa Medang-Mataram selain Sailendra pasti udah pada sering dengar kan?

Jadi, Dataran Tinggi Dieng inilah yang menjadi salah satu saksi bisu atas sejarah yang sebenarnya terjadi. Mudah-mudahan kunjungan saya ke Dieng kali ini mendapatkan pencerahan sejati. Enlightment!!!  Hahaha


Thursday, 11 September 2014

Back to The Road: Dari Karimunjawa Sampai Timor Leste

Gosh! Dang it!
Aku seperti habis amnesia atau makan apel kaya putri salju rasanya. Berapa tahun lamanya ngga nulis di sini. Rasanya ada yang ngga beres. Kalau kalian suka nulis di blog, pasti tau rasanya. Kemarin malam, saat aku menikmati me-time di kamar mandi. Aku meniatkan lagi diri ini untuk kembali berbagi cerita, cerita perjalanan. Hanya saja, makna perjalanan di sini akan ku coba luaskan. Tidak hanya tentang itinirary dan keindahan suatu lokasi, tetapi juga nilai-nilai yang ku temukan ketika melakukan perjalanan itu. Are you reaaadeeeeyyyyy!!!! *Girls shouting

Buat pemanasan, aku mau cerita beberapa part tentang perjalananku beberapa tahun kebelakang.

1. Teman bule di Karimunjawa
Aku sering melihat adegan di film-film luar negeri. Ketika seorang asing tiba-tiba mengajak ngobrol, biasanya mereka langsung menghindar. Nah, ceritaku beberapa tahun lalu di Karimunjawa. Saat itu pagi hari tidak bersahabat, mendung, angin badai, dan dingin membuat teman-temanku masih enggan beranjak dari kamar hotel. Aku, seorang diri memberanikan diri untuk mengendarai motor pinjaman menelusuri Pulau Karimunjawa hingga ke bagian ujung utara pulau, masyarakat di sana menamainya Pulau Kemojan. Sampai sekarang aku masih menganggap dua pulau itu adalah satu daratan yang sama. Mungkin ada selat kecil yang memisahkan. Entahlah.

Aku berhasil menemukan lokasi-lokasi luar biasa yang belum pernah ku temukan dalam perjalanan Karjaw sebelumnya. Seperti pemakaman seorang sunan, lokasi treking mangrove, perkampungan suku Bajo, dan pelabuhan (entah saya lupa namanya). Setelah merasa cukup, dan memperkirakan teman-temanku yang lain sudah bangkit, aku memutuskan kembali.

Dalam perjalanan kembali inilah sesuatu terjadi. (Aku baru ingat, rasanya aku udah pernah cerita tentang ini. Tapi biarlah). Jalanan aspal berlumut, berkelok dan naik turun, di tambah guyuran cinta dari gerimis mengundang, membuat saya terjungkal dari atas motor. Naas. Ada seorang ibu yang melihat dan dia langsung sigap menolongku. Ibu itu panik dan langsung mencarikanku obat merah. Tidak hanya itu, aku dipersilahkannya duduk dan menenangkan diri. Beberapa saat kemudian dia membawakanku air putih panas dan bergula, katanya untuk mengurangi syok dan memar. Wow aku baru tau itu.

Sampai segitunya orang kita peduli dengan orang lain. Bahkan kepada orang yang baru dijumpainya pun mereka anggap seperti sudah lama mereka kenal.

2. Timor Leste overland
Yang satu ini memang agak riskan untuk membuktikannya. Aku melakukan perjalanan seorang diri ke Dili, Timor Leste. Dari beberapa cerita yang aku dapat, masih ada sensitifisme yang dirasakan warga Timor Leste kepada Indonesia. Tapi aku penasaran untuk mengunjungi saudara lama Indonesia ini. Jadilah waktu itu aku memutuskan untuk overland Kupang-Dili dengan menggunakan sepeda motor berplat DH. Tidak banyak yang aku persiapkan karena memang tujuan utamanya adalah Dili. Di sana ada teman dari temanku yang bekerja di Dili. Aku hanya perlu memperkirakan nama-nama kabupaten yang akan dilalui, Kupang-Timor Timur Selatan (Soe), Timor Timur Utara (Kefamanu), Belu (Atambua), kemudian baru masuk ke perbatasan.

Perjalanan ku mulai di pagi hari sekitar jam 7 dari Kupang. Aku pikir bisa sampai di perbatasan sebelum imigrasi tutup. Beberapa kali aku berhenti untuk beristirahat dan mengabadikan pesona alam yang suprisingly banyak sekali yang bisa aku lihat sepanjang perjalanan. Pantai dan hutan-hutan di perbukitan semuanya mengajak saya untuk singgah me-selfi-kan mereka. Tak bisa lama-lama saya singgah, karena harus sampai di perbatasan Mota'ain sebelum jam 5.

Perkiraanku salah, mereka menggunakan GMT +9, sedangkan Timor bagian barat (wilayah Indonesia) GMT +8. Jadilah saya singgah di desa terakhir, Atapupu. Di sana ada perkampungan muslim yang ramai. Aku bisa menemukan pelabuhan, warung makan, masjid, pos polisi perbatasan, dan kantor bea cukai. Perfect! Perjalanan ku lanjutkan ke esokan harinya.

Sore itu juga aku mengurus surat ijin untuk membawa masuk motor Indonesia di kantor bea cukai. Aku meninggalkan SIM dan STNK asli di sana. Untuk tempat menginap, aku enggan harus kembali lagi ke Atambua, menempuh jarak sekitar 25 Km. Aku menanyakan kepada petugas bea cukai jika ada penduduk sini yang mau menyewakan kamar. Ternyata tidak ada.

Tetapi dia berbaik hati untuk mempersilahkan saya untuk tidur di kantor bea cukai. Ah, baik sekali. Ketika saya ngobrol-ngobrol dengan polisi perbatasan, mereka pun mempersilahkan saya untuk tidur di kantor polisi. Dan di masjid dekat situ pun, saya bisa berteduh. Tidak ada lagi kekhawatiran untuk masalah tempat tinggal.

Esok hari, aku masuk ke perbatasan. Aku melihat jejeran kontainer di samping beberapa bangunan-bangunan yang ternyata kantor imigrasi. Aku bayar 25 USD untuk kunjungan satu bulan. Walaupun sebenarnya aku hanya beberapa hari saja berada di wilayah Timor Leste. Ada anak-anak kecil yang setengah memaksa untuk membantuku mengurus visa. Mereka menjadi joki visa. Aku tawari mereka dengan rupiah, ternyata mau. Tak lama kemudian aku sudah legal masuk ke Luar Negeri! Yeaaay!!! Hahahaha

Perjalanan dari Mota'ain-Dili lebih mengejutkan lagi. Sepanjang jalan yang ku lalui adalah lautan biru yang sangat indah di sebelah kiri, dan tebing batu yang menakjubkan di sebelah kanan. Beberapa part jalan memang rusak dengan tiang-tiang listrik yang sepertinya sudah tidak berfungsi. Tidak banyak pemukiman yang ku temukan sepanjang perjalanan. Untungnya motorku si Sirius Black bisa bertahan. Bayangkan kalau dia harus mogok atau ban bocor? Mati sudah! Untungnya tidak! Semua Lancar. Dan setiap kali aku menemukan rumah penduduk dan berpenghuni, kalau tidak aku menyapa duluan dengan klakson dan anggukan kepala, mereka pasti sudah teriak duluan, "Kupang!!!," atau "Dehaaa!!!" DH plat nomor motorku. Hahahaha menyenangkan sekali. Mereka baik dan ramah. Mereka masih saudara kita.

3. (bersambung)

Yaay!! Aku nulis lagi...

Tuesday, 2 October 2012

Sumatera, Travelled!

Kejutan itu selalu menegangkan dan menyenangkan. Apalagi yang kasih kejutan itu Yang Maha Mengejutkan. Pastinya lebih menegangkan dan mengasikkan. Seperti kisah yang satu ini, membuat saya terus terkejut-kejut bagaikan tersengat listrik satu juta volt. Hahaha... Mati!

God surprieses me over and over again dalam perjalanan saya kali ini. Perjalanan antar-nusa yang saya mulai dari Tanjung Priok, Jakarta. KM. Kelud mengawali pelayaran saya menuju Sekupang, Batam. Pelabuhan yang menjembatani antar negara juga, ke Malaysia dan Singapore. Banyak hal yang bisa saya lakukan di dalam kapal yang besar ini. Saya bisa nonton di bioskop mini dengan sajian film-film dewasa di deck dua, berkaroke ria dan bermain di Timezone ala KM. Kelud di deck lima, atau sekedar berkeliling kapal dan nongkrong di kantin kapal deck tujuh menikmati suasana laut dan para penumpang lain yang beraktifitas. Satu hal yang saya sayangkan dari KM. Kelud milik PT. Pelni ini. Mereka harus belajar dari saudara mereka di daratan, PT. KAI, yang sudah memperbaiki sistem penjualan tiket penumpang kelas ekonomi. Akan lebih nyaman jika tiket yang dijual sesuai dengan jumlah tempat yang tersedia. Sehingga tidak akan ada lagi penumpang yang berjejal tidur di deck luar, lobi kelas I dan II, dan berserakan di tangga kapal. Selain untuk kenyamanan, tentu saja hal tersebut jauh lebih aman karena jumlah penumpang tidak melebihi kapasitas kapal.

Batam bukan tujuan akhir perjalanan saya. Saya hanya transit sambil mengunjungi free trade area ini sejenak. Untuk menghemat biaya akomodasi, saya telah menghubungi couchserfer Batam. Syukurlah ada yang bisa menyediakan tempat tinggal untuk beberapa hari. Couchserfer adalah member couchsurfing.com. Sebuah media sosial online yang menjembatani antara pelancong dan penyedia akomodasi gratis di hampir seluruh kota di Dunia. Sayangnya, dalam perjalanan, rumah host yang akan saya tempati terkena hujan badai dan tidak bisa menampung. Jadi, sesampainya di Sekupang, saya kehilangan arah *azeeek. Kemudian teringatlah bapak kos di Bandung. Empat hari yang lalu saya berkunjung di acara pernikahan anaknya. Beliau bercerita bahwa ada saudaranya di Batam.

You see? Permainan Tuhan macam apa ini? Kenapa Dia menjadikan putri bapak kos menikah tepat lima hari sebelum saya ke Batam? Yang membuat saya berkunjung ke Bandung dan mendapat kabar bahwa beliau punya saudara di Batam. How beautiful destiny is. Right?

Selain banyak barang-barang dan manusia-manusia black market, ada hal unik tentang Batam. Di sana, taxi bisa berfungsi seperti angkot. Setelah penumpang naik, supir bisa mencari dan mengangkut penumpang lain di tengah jalan. Ongkos pun jauh lebih murah dan pemakaian BBM lebih optimal. Tapi jika kita ingin sistem argo pun berlaku juga di sini.

Dari Sekupang, saya melanjutkan perjalanan ke Pekanbaru dengan menggunakan speedboat bermerek Batam Jet. Tanpa saya ketahui sebelumnya, ternyata kapal yang saya naiki ini hanya sampai Selatpanjang saja. Apa itu Selatpanjang? Harusnya perjalanan saya langsung ke Pekanbaru. Tetapi karena keterbatasan informasi tentang jadwal kapal, saya harus terdampar di sini dan menunggu kapal lain yang akan membawa saya ke Pekanbaru.

Pertanyaan selanjutnya, di mana saya harus tinggal malam ini? Bapak kos tidak pernah bercerita tentang saudaranya yang ada di Selatpanjang. Jelas sekali kejutan kali ini tidak ada hubungannya dengan bapak kos. Akhirnya saya menggalau di kantin sambil ditemani kopi panas yang cepat sekali dingin. Sebuah tulisan besar “PENGINAPAN” tepat di depan pelabuhan menggoda saya untuk beranjak ke sana.

Sambil menikmati kopi, saya mencari info sebanyak-banyaknya tentang Selatpanjang dan kemungkinan couchserfer yang membuka rumahnya di sini. Saya buka juga google maps untuk mengetahui di mana sebenarnya letak Selatpanjang?

Ternyata, Selatpanjang adalah sebuah pelabuhan di Kab. Kep. Meranti. Meranti sendiri adalah kependekan dari tiga pulau yang menjadi anggota kabupaten kepulauan tersebut, yaitu (ME)rbau, (RAN)gsang, dan (T)ebingtingg(I).

Kegalauan semakin memuncak karena tak ada teman yang mengangkat telpon hanya untuk berbagi cerita. Juga tak ada informasi tentang host gratis di Selatpanjang dari media sosial online manapun. Sebelum saya menyerah, saya mencoba keberuntungan dengan menghubungi kawan yang tinggal tak jauh dari pulau ini, Pulau Bengkalis. Taraaaa, ternyata seorang kawan guru tempat dia mengajar berasal dari Selatpanjang dan keluarganya bersedia menjemput saya untuk bermalam di tempat mereka. Surpriseee!!!

Rasanya seperti baru saja keluar dari lubang yang sempit. Di sebuh tempat yang bahkan saya baru tahu keberadaannya, masih saja ada pertolongan yang tak terduga.

Hal yang unik di Selatpanjang, air yang digunakan masyarakat untuk MCK berwarna seperti teh pekat (bukan sliming tea yang kehijauan). Mungkin karena komposisi daratan ini adalah tanah gambut. Jadi, tak perlu lah membeli es teh di sini. Cukup sediakan es batu dan gula jika ingin menambah rasa manis. Jadilah es teh. Mantap bukan?

Keluarga yang menampung saya ini sangat ramah. Bahkan saya diajak berkeliling kota dan mencicipi makan khas di sini. Kota ini terlihat tua jika diperhatikan dari bangunan-bangunan pertokoan khas Melayu-Tionghoa seperti dalam setting film Laskar Pelangi.

Keesokan harinya speedboat Meranti membawa saya melanjutkan perjalanan ke Pekanbaru, Ibu kota propinsi Riau. Sepanjang perjalanan,  saya disuguhi pemandangan layaknya film Anaconda 2. Saya menyusuri sungai siak dengan kanan kiri pepohonan. Tugboat dan kapal tongkang juga berkali-kali terlihat membawa log-log dan peti kemas. Satu pengalaman baru buat saya, bertransportasi di sungai. Bukan jalan aspal, rel, udara, atau laut.

Tibalah saya di pelabuhan Sungai Duku. Untuk pertama kalinya, saya menginjakkan kaki di Andalas.
Sumatera, travelled!

Tips dan Trik:
1. Bagi budget traveler yang meminimalisir biaya penginapan, gunakanlah couchsurfing. Ada banyak host di hampir setiap kota di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Hubungi mereka jauh-jauh hari. Karena di beberapa kota, member tidak begitu sering membuka akun couchsurfing mereka. Dan carilah lebih dari satu host, untuk jaga-jaga jika ada pembatalan seperti cerita saya di atas. Hehe

2. Carilah info sebanyak mungkin tentang daerah-daerah yang akan dikunjungi beserta fasilitas transportasi publiknya.

3. Gunakan provider selular yang jaringannya menjangkau sampai ke pelosok negeri. Saya menyarankan Telk*****. Sinyal yang baik sangat bermanfaat jika tiba-tiba anda membutuhkan informasi mendadak seperti yang saya alami di atas. Hahaha

Thursday, 19 July 2012

Lika Liku Hidup dan Rel Kereta Api

Sebelum menyimak kisah saya, mari dangdutan dulu..
“Hidup penuh liku-liku
Ada suka ada duka
Semua insan pasti pernah merasakannya
                Jalan hidup rupa-rupa
                Bahagia dan kecewa
                Baik hidupnya
                Semua pasti ada hikmahnya”
*Setelah lirik itu, biasanya biduan organ tunggal pantura kayang sambil teriak

Saya duduk tepat di di depan WC kereta api ekonomi Bengawan dari Jakarta ke Solo. Jejak-jejak kaki keluar masuk WC dan bau pesing saya nikmati sebagai aroma terapi dini hari yang sejuk. Saya sendiri naik dari Stasiun Parujakan, Cirebon. Di sinilah spot PW yang tiada tara, melebihi nikmatnya fasilitas hotel bintang lima. Betulkah? Entahlah..

Saya menikmati setiap penjajah makanan khas KA ekonomi yang naik turun silih berganti di setiap pemberhentian stasiun. Saya hayati suara pengasong-pengasong itu saat menawarkan jualan mereka,
Pi.. kopi... pop miee...,”
“ting... lantiiing.. yang guriii”
“suu... tisuu.. tisuu...”

Jika tidak memperhatikan dengan seksama, mereka seperti tidak pernah lelah mondar mandir dari satu gerbong ke gerbong yang lain sambil berteriak menjajakan makanan. Padahal mereka adalah pengasong-pengasong yang bergantian keluar masuk kereta. Sungguh well organize. Seperti ada SOP khusus yang mereka sepakati antar pengasong sepanjang lintasan kereta di Pulau Jawa.

Suara roda kereta yang gemertak, suara mesin kereta yang menderu membelah sunyinya malam, dan suara signal kereta saat akan memasuki stasiun terdengar harmoni seperti alunan orkestra yang merangsang otak saya untuk menulis, merekam semua kejadian di kereta ini. Jika tidak dinikmati, memang suara-suara ini sangat berisik dan mengganggu.

Penumpang yang terlelap tidur berkali-kali terkaget saat peluit signal berbunyi. Saya malah keasikan dengan semua kebisingan kereta ini. Karena saya kentutpun tidak akan ada yang tahu. Tapi harus bisa memperkirakan bunyi kentut bersamaan dengan gemertak roda kereta. Seperti tokoh vasilli dalam perang dunia II di arena Stalingrad, Rusia, yang digempur oleh pasukan Nazi. Vasilli, sang sniper, memanfaatkan dentuman bom untuk melepaskan peluru ke tentara Nazi agar lokasinya tidak akan diketahui.

Ya, di depan WC inilah tempat favorit saya. Hilir mudik para penumpang yang akan dan telah menikmati sesi buang air saya saksikan. Masuk dengan terburu-buru, keluar berlenggang dengan wajah sumringah. Saya bukan penumpang gelap, bukan juga penumpang malam yang tidak kebagian tempat duduk.

Semenjak delapan bulan kebelakang, saya perhatikan perkereta apian Indonesia mulai berfikir manusiawi. Tak ada lagi gerbong yang penuh berjejal manusia di setiap sudutnya. Manusia di sambungan kereta, di kolong tempat duduk, di sepanjang jalan gerbong, dan di seluruh celah yang memungkinkan kaki untuk berpijak.

Sekarang, dengan peraturan barunya, PT. KAI tidak lagi menjual tiket berdiri, tiket kolong, dan sebagainya itu dengan harga yang sama dengan tiket yang dimiliki orang-orang yang tertidur pulas di tempat duduk masing-masing. Jadi, di sanalah saya sebenarnya duduk, di samping seorang nenek bercucu enam.

#Nestapa Seorang Ibu
Nenek pensiunan Depnaker itu mempunyai enam cucu. Dari detik pertama saya duduk di sampingnya, dia sudah mulai bercerita tentang sebagian kecil kisah hidupnya yang memilukan. Dia ditinggal pergi anak laki-lakinya yang berusia 19 tahun, kala itu. Ibu itu bertutur, dulu – sebelum anak laki-lakinya meninggal - dia gemuk. Namun karena terlalu lama meratapi kepergian anaknya, dia tidak mau makan sampai berbulan-bulan.Tentu saya tidak percaya. Bagaimana mungkin dia masih hidup sampai sekarang? Kalau tidak, di samping saya ini adalah zombie. Ternyata memang betul, jika tidak kasihan dengan perutnya, dia tidak mau makan, tuturnya.

Suatu ketika, seseorang yang melayat mendoakan anaknya berpesan, tak usalahlah meratap berlebihan. Lihatlah para keluarga korban tsunami Aceh – kematian anaknya berdekatan dengan musibah tsunami Aceh – yang ditinggal seluruh sanak famili mereka, mereka lebih banyak kehilangan.

Dikatakan begitu, ibu itu marah bukan main, dan membalas, “kamu belum pernah mengalami hal ini. Tunggu saja kalau kamu ditinggalkan anakmu."

Begitulah ibu yang tidak saya ketahui namanya bercerita. Kemudian saya tinggalkan saja dia yang sudah meninggalkan saya lebih dulu. Dia tertidur pulas dengan mulut menganga.

***
Dan di sinilah saya, di depan WC yang lebih nyaman, dari pada kursi  penumpang yang sama saja tidak bisa membuatku tertidur. Di sini, saya bisa melihat lebih banyak ekspresi wajah para penumpang, dari pada di tempat duduk hanya ada wajah-wajah bosan, ngantuk, dan penat. Di sini, di depan WC, aku melihat ekspresi lain yang lebih menyenangkan untuk di lihat. Ekspresi pengguna WC saat kebelet dan harus mengantri  dan begitu lega ketika keluar. Ekspresi penjaul asongan yang penuh harap dagangannya ada yang membeli. Ekspresi senang penumpang baru di setiap pemberhentian stasiun. Dan ekspresi kesal seorang penjual pop mie yang disebabkan oleh saya.

Penjual itu langsung jengkel ketika saya membayar barangnya dengan uang pecahan besar. Dia meminta saya untuk membayar dengan uang pas saja. Saya pun langsung menunjukkan isi dompet untuk membuktikan di dompet saya tidak ada pecahan uang yang lebih kecil lagi. Kemudian mukanya langsung ditekuk sambil berlalu.
“Lho, pak! Ini gimana?” ku angkat pop mie itu sambil kebingunan.
“Ya udah, ambil aja!” kemudian dia berlalu masuk ke gerbong.

Akhirnya saya makan pop mie dengan rasa bersalah. Tidak ku rasakan lezatnya MSG yang biasa sangat saya nikmati. Sesekali penjual itu masi hilir mudk, masih menjajakan dagangannya. Saya, dengan mulut yang penuh dengan MSG seakan-akan mendengar ia berkata, “Enak lu! Makan MSG gratis!!!”

Saturday, 5 March 2011

Bule di Karimunjawa


Salah satu teman seperjalanan saya ke Karimunjawa adalah dua warga asing asal Jerman. Pertama kali saya lihat, seorang pria datang ke pelabuhan menggunakan becak. Dia terlihat repot dan terburu-buru dengan barang bawaan yang begitu banyak, karena kapal Muria sebentar lagi berangkat. Saat itu saya pun sudah mau boarding ke Kapal.

Saya baru tau laki-laki bule itu bersama temannya setelah saya dengar samar-samar dia bilang ke ticketing bahwa dia mau beli tiket untuk dua orang. Dia bilang satu lagi temannya belum datang. Sambil berlalu saya tidak terlalu perduli. Setelah saya dan teman-teman memasuki dek penumpang kelas ekonomi, saya kembali melihat bule itu lagi yang ternyata memang satu pasang.

Saya kembali bertemu dengan mereka di dek atas kapal. Dan adegan pertama yang mereka lakukan adalah berciuman ala Cinta dan Rangga.

Disitulah awal perkenalan kami. Ternyata mereka dari Berlin, Jerman. Mereka sudah mengnjungi beberapa tempat di Indonesia. Seperti Jakarta, Bandung, Jogja, dan Bali. Ketika saya tanya mau berapa lama di Karimunjawa, mereka masih belum tau. Dan saya tanya sudah punya plan mau apa aja di Karjaw, mereka juga belum tau.

Well, karena saya orang yang cukup baik, saya tawarkan mereka untuk gabung dengan acara yang kami buat, full two day snorkeling. Biar bisa share cost kapal buat snorkeling. Yang bule cowok minta penjelasan dari cewek, sepertinya dia agak kurang ngerti bahasa Inggris. Atau bahasa inggris saya yang ndak bisa dimengerti? Hahaha
"Seems interesting... We'll join with you!" kata yang cewek. Oke, saya bilang kalo mereka ikut, kita ketemuan di pelabuhan nelayan jam 08.00.

Keesokan harinya, jam 08.00 pasangan bule nggak datang. Oke, berarti mereka nggak ikut. Tapi tunggu dulu, ternyata pas kita udah siap di dalam kapal mau berangkat snorkeling, saya liat pasangan bule itu datang. Saya langsung nyamperin dia. Trus yang cowoknya bilang, "are you the guy from yesterday in the ship?" YES, BOSSS!!!

Setelah ngobrol bentar, ternyata mereka nggak jadi ikut. Pagi itu memang angin sangat kencang disertai hujan. Mereka kira kita nggak jadi snorkeling karena cuaca gini. Tapi mereka bilang besok mereka mau ikut snorkeling. Okelah kalo begitu. Saya kembali ke kapal.

Malemnya, kita ketemu lagi pas makan di satu-satunya warung makan yang ada di Karimunjawa yang agak mending. Trus kita ngobrol-ngobrol, ternyata mereka ditawarin sebuah resort dengan harga 5jt/ night!!! Dan yang membuat mereka aneh, yang nawarin ke mereka itu dua orang laki pake motor. Yang satu tua, satu lagi lebih muda yang translate ke inggris. Mereka nggak terlihat seperti orang resortnya. Trus si bule bilang resortnya aneh, gelap, nggak ada orang, dan keliatannya kayak udah tutup. Akhirnya si bule nggak ngambil lah. Duit yang mereka bawa juga gak cukup. Katanya mereka cuma ngambil duit di ATM beberapa sebelum nyebrang. Karena yang cowok pikir di Karjaw dia bisa ngambil lagi di ATM atau bayar pake kartu kredit. Boom! Di Karjaw belum ada.

Trus, yang cewek ngeluhin sarapan yang dia dapet di hotel. Katanya mereka cuma dikasih nasi putih sama telor ceplok doang. Saya langsung ketawa dengernya hahaha... Kadang kesel sama mereka kalo inget pernah punya pengalaman nggak enak diperlakukan di negeri dia... Tapi ketika pikiran itu datang, langsung saya tepis. Saya ingin menjadi Orang Indonesia yang sopan dan ramah. Mwehehe

Bukan hanya itu pengalaman nggak enak yang mereka alami di Karjaw. Besoknya pas mau snorkeling bareng, pagi-pagi si bule langsung laporan ke saya. Yang cewek bilang dia takut, karena dua orang lelaki yang nawarin mereka resort 5jt selalu membayang-bayangi. Dua orang lelaki itu selalu ada di pantai depan hotel mereka. Terus pagi-pagi mereka bangun juga, 2 lelaki itu udah ada di depan hotel. Pas mereka ke pelabuhan mau ikut snorkeling, dia juga udah nungguin.

Satu hal di mana mereka nggak ngalamin kebuntungan di Karjaw adalah di hari pertama. Mereka nggak jadi ikut snorkeling, tapi mereka akhirnya motocycling keliling daratan Karjaw. Mereka dapet sewa motor lebih murah dari yang kita dapet. Si bule dapet 60 seharian. Tapi pas hari ketiga kita nyari, kita malah dapet harga 70-75 seharian. Kok bisa ya? Hahaha... biarin lah ya.. biar ada yang bisa dibanggain dari mereka di Karjaw. Masa sial mulu ahahahaha.... #sirik

Hari ketiga, si Bule nggak ada nongolnya. Sebenernya bukan nggak nongol juga, tapi nggak sempet ketemu saya. Jadi sebenernya pagi-pagi mereka datang ke Wisma nyari saya, tapi saya nggak ada di tempat, lagi mengalihkan kekecewaan karena kapal Muria nggak berangkat lagi dari Jepara. Tapi sore mereka bales sms saya, katanya hari itu mereka ke warnet terus motorcycling lagi.

Hari keempat, agenda kita para turis terdampar mau mancing di dermaga kapal fery. Dengan bekal kenur, mata pancing, dan dua potong daging tongkol yang semuanya itu hasil minta-minta, kita berangkat ke dermaga dengan menghampiri Mas Alex sang guide kita. Kita pilih mancing karena itu salah satu hiburan yang nggak butuh banyak dana. Malah gratis tis tis... hahaha. Iya lah, kita nggak tau sampe kapan akan terdampar di pulau Karimunjawa. Kita juga nggak tau apakah uang cash yang kita bawa akan mencukupi, even for our basic needs? Makannya nyari yang gratis gratis aja. Tapi tetep bisa have fun! haha... Lumayan, mancing di dermaga juga kita dapet ikan kerapu (kecil), ikan betek si pemakan karang yang giginya mirip piranha.

Naluri orang Indonesia yang baik hati saya muncul. Jadi saya mesej mereka buat diajak gabung. Ternyata mereka balesnya, "...we are getting crazy because of the ship. Our money is going off, too. And we don't know anymore what to do with all the time (sigh)" Omegosh...!!! Hati saya terenyuh, kenapa mereka begitu memelas. Akhirnya karena nggak tega saya kol dia. Dan ternyata pas saya tanya lagi pada ngapain, si ceweknya bilang dia seharian di hotel duduk di depan jendela memandang ke arah pantai dan pelabuhan menunggu kapal ferry datang. Oowh... Yaudah saya bilang, mereka ke sini aja dulu ke pelabuhan. Nanti kita cari solusinya bersama.

Setelah saya tunggu beberapa lama, datanglah pasangan bule. Yang cowok tetep senyum dengan wajah merah terbakarnya. Tapi yang cewek udah ditekuk-tekuk mukanya. Kusut banget pokoknya. Udah hopeless banget. Dia beberapa kali mendesah/ merengek sambil nanar menatap lautan. "I'm homesick now...," dia bilang.

"So, we are going to sail now? Who will be the captain?" bule cowok bilang. DEG..!!! Perasaan saya mulai nggak enak, nih. Kapten? Jangan.. jangan... saya salah ngomong sama mereka. Ternyata bener. Waktu saya mesej mereka buat gabung, saya ketik "sailing" hahaha... Maksud saya tu "fishing...." Pantesan si bule pas bales mesej pertama mereka bilang mau di hotel aja karena udah nggak ada duit lagi. Karena mereka pikir kita akan berlayar terus nyewa kapal lagi. Ngerasa ketipu sama ajakan saya si bule cewek tambah bete aja. Yahh, sorry deh bul!

Di sini, saya juga nawarin mereka buat gabung pulang bareng pake kapal nelayan besok petang. Di sini juga pertemuan terakhir saya dengan bule-bule teman seperjalanan saya kali ini. Kita bertemu di atas kapal di tengah laut Jawa, dan berpisah di pelabuhan fery Karimunjawa. Pesan terakhir yang mereka bilang adalah, "Umur, send me text if you are landed safely. If we don't accept your sms till evening, I'll call police. Okay?" Haha... Kemudian mereka berlalu..

Dan ketika saya sudah berada di Cirebon, tidak ada perasaan khawatir menunggu kapan kapal muria datang, tidak ada kekhawatiran akan terdampar berhari-hari. Tiba-tiba ada sms masuk, setelah saya lihat inbox ternyata dari nomer dengan kode +49. Saya langsung teringat kedua bule itu. Mereka bilang, "..now we are in Semarang and will go to jakarta soon to fly back to Germany. You remember the two guys? they were expecting 80k. They say 300k/ night, but the hotel said 220 :)

Saya hanya senyum, dan kembali menarik selimutku....

Saturday, 12 February 2011

Kemalangan di Karimunjawa


Walaupun tidak di lubang yang sama, seharusnya saya tidak jatuh empat kali di hari yang sama. Karena saya bukan Keledai. Kok bisa? Simak saja ceritanya kalo ada waktu. :D

Tiap hari saya tidur di kursi panjang yang terbuat dari kayu di lobi wisma, kecuali beberapa hari. Alasannya kenapa? nanti saya ceritakan. Wisma Wisata Karimunjawa adalah bangunan tua. Ketika kita baru check-in pun aroma yang semerbak tercium mirip sekali dengan aroma-aroma mistis di keraton-keraton kerajaan jaman dahulu. Kemudian sejajar dengan pintu masuk, terdapat gebyog ukiran Jepara lengkap dengan kursi pengantinnya. Tapi entah mengapa kursi pengantin diposisikan terbalik (menghadap ke tembok). Nah, ditengah-tengah gebyog terdapat juga cermin tua yg dibingkai ukiran kayu khas Jepara.

Seperti hari-hari sebelumnya saya tidur di sebuah kursi. Sering saya terbangun di tengah malam, mungkin karena memang kurang nyaman atau karena hawa dingin dari angin laut yang masuk dari luar. Tapi biasanya, menjelang fajar, saya mulai tertidur pulas. Pada hari itu entah saya mimpi apa, saya terbangun dari tidur karena terjatuh dari kursi. Setelah meyakinkan diri saya benar-benar jatuh, segera saya bangkit dari lantai. Melihat ke sekeliling ternyata yang lain masih belum pada bangun. Syukurlah, tidak ada yang menertawakan kekonyolanku.

Kejadian itu tak begitu ku anggap. Pagi itu Karimunjawa diguyur hujan kecil. Saya mengajak Michael yang sudah bangun untuk jalan-jalan ke pasar traditional. Terlebih dahulu kami mencari motor sewaan dengan minta bantuan ke Mas Amin sang resepsionis. Sekalian juga motor ini yang akan kami gunakan untuk keliling pulau. Akhirnya kami dapat dua motor dan mengajak dua orang lagi, Gunawan dan Imam.

Ternyata pasar traditional tak seperti yang ku lihat di buku Indonesia in Frame terbitan Departemen Pariwisata. Sekarang pasarnya sudah berada di bangunan layaknya kebanyakan pasar di kota-kota lain. Di sana kami hanya melihat-lihat, membeli kue-kue traditional untuk sarapan, dan si apa Michael membeli banyak ikan asin, oleh-oleh untuk mama Michael, katanya. Kemudian kami mampir di warung bubur ketan hitam untuk sarapan.

Sambil santai-santai di depan wisma, menunggu semua teman bangun, kami mendapat kabar bahwa kapal Muria tidak berangkat lagi hari itu. Sontak saja membuat kecewa teman-teman. Mereka kembali tidur untuk mengalihkan kekecewaan. Karena kepulangan yang tertunda lagi. Sedangkan saya, mengalihkan kekecewaan dengan mengendari motor seorang diri diguyur hujan rintik. Awalnya saya tidak berniat jalan begitu jauh, tetapi rasa penasaran saya kian membuncah. Akhirnya saya meneruskan perjalanan sampai ke Pulau Kemojan dan ke Desa Kemloko. Setelah dirasa sudah terlalu jauh, saya kembali karena pasti yang lain sudah siap untuk berpetualang lagi.

Medan yang dilalui bagi saya cukup menantang. Tanjakan dan turunan serta belokan yang dibumbui aspal licin akibat diguyur hujan menambah kesulitan bagi saya. Akhirnya tanpa terelakkan, saya terjatuh dari motor, dan sempat membuat panik empat orang warga sekitar. Mereka memberi saya kapas dan betadine. Malah seoarang ibu yang baik hari menyuguhi saya air gula. Sambil menahan rasa nyeri karena goresan aspal dan kedua tangan yang terkilir, saya melanjutkan perjalanan pulang ke Wisma.

Sampai di wisama, benar saja ternyata teman-teman yang lain sudah menunggu. Setelah membersihkan luka dan mencari sisa motor untuk teman-teman yang lain, saya kembali touring. Kali ini bersama teman-teman dan seorang guide, Mas Alex. Dengan melewati jalan yang persis sama seperti yang saya lalui sebelumnya, kami menemukan satu demi satu 'a hidden paradise'. Kami mengunjungi rumah adat Jawa dan Bugis, pantai baracuda, pantai batu putih, bandara Dewadaru, pelabuhan Legon Bajak, hutan mangrove, serta dua pantai lain yang tak kalah indahnya.

Kalau saja tidak ada guide, mungkin akan sulit bagi kami untuk menemukan pantai-pantai tersebut. Karena untuk mencapainya, jalan bukan aspal lagi, tetapi lumpur-lumpur becek, bahkan turunan jalan yang tidak bisa dilalui oleh motor lagi hingga kami harus jalan melewati semak belantara. Saat menuruni tebing menuju pantai batu putih, lagi-lagi saya terjatuh. Dan sekali lagi saya terjatuh, saat saya melewati akar pohon yang terlihat tertuitup oleh pasir. Gusti... Temen saya malah bilang, "wah jangan-jangan mau punya adik lagi..." :p

Tapi semua yang saya alami sungguh terbayar dengan semua yang saya lihat dan nikmati bersama teman-teman. Di bandara ada dua pasang keluarga yang berbaik hati menghibur kami yang tidak bisa pulang. Mereka menyuguhi singkong rebus. Memang itu tidak seberapa. Tapi keramahan dan kehangatan yang mereka berikan disaat kita kecewa karena terdampar. Dan suguhan singkong rebus hangat pun menjadi sangat bernilai saat itu.

Terimakasih, singkong rebus! :p

Terdampar di Karimunjawa

Perjalanan ke-dua ke Karimunjawa penuh halangan, walau semuanya terbayar. Mengunjungi kepulauan kecil di Indonesia memang harus pintar dalam memperhitungkan waktu keberangkatan. Jika tida, siap-siap saja terdampar di pulau. Seperti kisah saya dan teman-teman di bawah ini. Kita sedikit memaksakan pergi di saat ombak dan angin di laut Jawa kurang bersahabat. Alhasil kita terdampar beberapa hari di sana.

Dari awal ibu sudah wanti-wanti, "apa ndak nanti saja ke Karimunjawanya? Sekarang masih musim barat..." Dan nasihat-nasihat lain yang intinya, jangan berangkat sekarang. Tapi bodohnya anak ibu, tetep saja memaksakan diri karena percaya pada info yang diberikan orang Karimunjawa. Jelas saja mereka bilang, "tanggal segitu cuaca bagus!" Kalo mereka bilang jelek, berarti kurang cerdik. Karena sama saja menolak rejeki.

Bak ucapan mamak Malin, ucapan ibuku menjadi nyata. Saya dan temen-teman terdampar di Karimunjawa sampa dua hari. Dari awal kedatangan kami di sana, cuaca memang sering uring-uringan, kadang cerah, tapi seketika mendung gelap mencekam. Kami khawatir nasib kami akan seperti para wisatawan yang terdampar behari-hari, kehabisan bekal, dan tidak bisa kerja atau kuliah. Hingga masuk media cetak dan elektronik.

Akhirnya dengan penuh perasaan cemas akan keputusan yang diambil, kami membulatkan diri untuk menggunakan kapal nelayan yang menurut saya sangat riskan untuk nyebrang ke Jepara. Berkali-kali saya menanyakan ke teman-teman yang lain, "apakah kalian yakin menggunakan kapal nelayan dengan resiko yang sangat tinggi? Kapal akan mudah oleng karena gelombang tinggi laut Jawa..." Ternyata semuanya menjawab, "iya." walaupun wajah mereka berkata tidak. GOD!!! padahal jawaban yang saya inginkan adalah, "yaudahlah... nanti aja nunggu kapal Muria..." Huffh... Mau ngga mau saya harus bertanggung jawab atas keselamatan mereka, dan ikut dengan "kapal bajak laut".

Hari sebelumnya, saya bertemu dengan dua teman perjalanan kami asal Jerman, Kristin dan Alex di pelabuhan fery saat memancing, dan bercerita tentang rencana kami untuk menyeberang menggunakan kapal nelayan. "Umur... Please don't do that. How if the ship broken? There's no chance for you..." Kristin berkata sambil memelas. Tapi karena tekad sudah bulat, ya mau ada kesempatan ato enggak, hajarrrrrr!!!

Akhirnya malam yang menegangkan tiba. Sejak maghrib kita sudah menyusun rencana. Nahkoda kapal menarik saya ke samping warung alun-alun yang gelap. Sambil berbisik, dia memberitahu rencana keberangkatan kita di waktu fajar nanti. Kita berencana berangkat jam 04.00 untuk kucing-kucingan dengan Syahbandar. Si Bapak dan Ibu warung tak mau ketinggalan, di tengah keremangan wajah misterius mereka berbisik, "awas... jangan sampai ada yang tahu dengan rencana kita. orang syahbandar punya banyak mata-mata.."

Rencana tersusun dengan rapih, dengan mengendap-endap di kegelapan malam kita akan keluar dari wisma menuju prahu nelayan. Jam 22.30 teman-teman sudah masuk ke kamar masing-masing. Entah mereka bisa tidur atau tidak, tapi saya masih diliputi kegelisahan. Ternyata teman saya, Gunawan, juga demikian. Sejak sore saya lihat air wajahnya sangat tegang. Ketika kita ngobrol di teras wisma malam itu, dia mengungkapkan ketidakyakinannya. Dengan jawaban seadanya saya bilang, "kalau nggak yakin ya jangan dipaksa, ntar aja nunggu Muria."

Untuk mengalihkan kegelisahan, di tengah malam itu saya ke warung untuk makan. Saya pesen mie plus nasi. Tak berapa lama, Gunawan menyusul masih dengan wajahnya yang terlihat tegang. "Kopi bu..." dia bilang. Dan di sinilah terjadi peristiwa yang menambah kekhawatiran. Saya melihat sendiri, saat ibu warung menuangkan air panas ke dalam gelas, seketika gelas terpecah menjadi dua dengan suara yang keras. Gunawan langsung terkaget, kemudian dia bilang, "wahh... ada apa nih? INI SUATU PERTANDA..."

Perairan Karimunjawa dengan cuaca mendung. Photo by Anggi
Saat-saat itu tiba, jam 03.00 saya udah kordinasi sama temen-temen yang berjumlah 14 orang, via sms dan call agar menghindari keributan. Michael saya minta menghubungi Alex, tourguide di Karimunjawa, untuk mengantarkan pelampung yang akan kami pakai. Setidaknya itu satu-satunya alat keselamatan yang bisa diandalkan. Menjelang jam 04.00 semuanya sudah siap. Kemudian bersama-sama kami keluar dari wisama dengan seribu perasaan mencekam. Layaknya imigran gelap, saya melihat teman-teman membawa tas-tas besar menerobos kegelapan menuju kapal nelayan.

Semuanya telah siap. ABK menjejakkan tongkat pelan untuk menghanyutkan kapal ke tengah laut. Setelah di laut dalam dan jauh dari pulau, barulah ABK menyalakan mesin dan tancap gas. Saya sudah memasrahkan diri kepada Dia yang berkuasa atas nyawa saya. Tapi untuk jaga-jaga, sebenernya saya udah titip mesej ke temen-temen di FB, "kalau sampe sore tidak ada kabar dari saya, tolong hubungi tim SAR atau polisi..." Hahaha

Sebenernya, sebulan sebelumnya saya berkunjung ke sini dengan grup yang berbeda untuk merayakan tahun baru 2011. Pun saya dan kawan-kawan mengalami hal yang sama, terdampar beberapa hari. Simak keseruankami dalam pesta kemban api tahun baru di Karimunjawa di sini

Sunday, 9 January 2011

Trip Karimunjawa: Un Viaggio per Il Paradiso (Part I)


Hadiah tahun baru yang indah di Karimunjawa

Setelah kurang lebih 2 bulan kita merencanakan perjalanan ke Karimunjawa, akhirnya akhir tahun 2010 sampai awal tahun 2011 kami berada ke pulau seribu kenangan ini. Dimana kita merasa gembira, sedih, cemas, duka, terharu, merana, terpesona, jatuh cinta, derita, tawa, dan lara. Itu semua kita lalui dengan 19 orang dari berbagai macam daerah, suku, bahasa, dan agama yang berbeda namun bersatu untuk saling berbagi kebahagiaan. Ke-19 orang itu dilihat dari kota keberangkatan adalah; Ero, Sang, Rhaga, Witri Dhini, dan Pravi dari Jakarta, Adrian, Imelda, Lova, dan Eka dari Bekasi, Erny dari Bandung, Sem dan Tikno dari Semarang, Bayu, Anggi, Vina, Satria, dan Indah dari Jogja, dan saya sendiri dari Cirebon.

Tanggal 30 Desember 2010 hari Kamis, saya mengawali perjalan dari Cirebon jam 10.30 dengan menggunakan bus Coyo. Disusul dengan Rombongan Jogja yg berangkat dari Terminal Jombor. Rombongan Bekasi memulai perjalanan menjelang maghrib dari Rawamangun. Geng nEro berangkat setelah matahari terbenam. Rombongan dari Semarang bersepeda motor di tengah malam yang diguyur hujan lebat.

Jogja, Bandung, Cirebon bertemu di Terminal Terboyo Semarang saat matahari mulai hilang. Rencana awal kita mau pake bus kecil ke Jepara. Tapi karena menunggu Erny yang masih di dalam Travel Joglosemar, kita ketinggalan bus terakhir yang berangkat pukul 19.00. Akhirnya kita putuskan untuk naik travel saja. Setelah bersilat lidah dengan supir travel yang bersikap tak menyenangkan, kita mengambil travel yang lain dan meninggalkan keriuhan terminal yang macet, bising, hujan, dan becek itu tepat pukul 19.30. Dua jam kemudian, pukul 21.30 kami sampai di Pelabuhan Kartini Jepara.

Karena lapar, kita langsung menyantap makanan yang kita beli di perjalanan dari Semarang tadi. Setelah itu, ada yang langsung bersarang di Mushola deket Pub, ada juga yang nonton tv sambil ngopi, ngemih, ngecas HP. Pasangan sejoli dari semarang datang puluk 02.00 ketika langit masih menangis. Dan dengan terasa waktu berlalu begitu lama menunggu pagi. Menjelang subuh, wisatawan lain mulai berdatangan berduyun-duyun. Mereka mulai memadati pelabuhan hingga matahari terbangun dari peraduannya. Rombongan Bekasi datang lebih dulu, setelah itu barulah geng nEro datang.

Ketika loket dibuka, kami langsung menyerbunya. Kita dibagi menjadi 2 strata. Untuk rakyat jelatah masuk kelas ekonomi. Golongan ningrat tentu saja ndak mau menghirup apalagi menginjakkan sandalnya di dek economi class karena itu penghinaan buat mereka. Hahaha.. lebay. Lamaaaa kita menunggu kapal berangkat. Akhirnya kapal mengangkat jangkarnya juga pukul 09.30. Ombak yang begitu besar menggoyang Ferry yang “bangga menyatukan bangsa” sejak kami mulai meninggalkan pelabuhan sampai samar-samar pulau Jawa terlihat dan akhirnya menghilang. Tidaaaak pulau jawa hilaaang!! :p

Di dalam kapal, tidak banyak yang bisa kami lakukan karena gelombang laut semakin menjadi-jadi hingga beberapa dari kami jekpot. Kapal Motor Penumpang Muria saat itu tidak terlalu penuh. Beberapa orang bisa memakai lebih dari satu kursi untuk berbaring. Selain dek tengah, dek atas adalah salah satu spot favorit para penumpang untuk tiduran atau menikmati indahnya gelombang laut yang menggulung-gulung tinggi dan terpecah oleh KMP Muria yang menyisakan buih putih. Dan salah satu moment yang tak terlupakan adalah kami melihat kawanan ikan terbang yang beberapa kali muncul ke permukan dan terbang dengan indahnya bermanufer membentu formasi yang menakjubkan. Setelah enam jam lebih kami bersama-sama mengarungi laut Jawa, akhirnya kami melihat sebuah daratan. Karimunjawaaa… here it is! Tepat jam 5 sore kami merapat ke dermaga dan ternyata sudah ditunggu oleh Mas Kamit yang akan membantu kita mengurus semua keperluan disini. Setelah mengabadikan moment di gerbang selamat datang, kami diantar mobil jemputan yang ternyata bayar namun digratiskan, menuju homestay.

Malam pertama kita dibagi menjadi dua homestay. Selain Bang Sang, semua geng nEro memisahkan diri. Mereka dapat homestay yang beda untuk satu malam pertama. Malam selanjutnya mereka menginap di Escape. Kami dapat 4 Kamar untuk 6 cewek dan 8 cowok. Kaum wanita dibagi rata, tapi yang laki dibagi 5 dan 3 karena satu kamar memang lebih sempit. Selain 4 kamar, kita juga punya ruang tv dan ruang tengah dengan 1 kamar mandi untuk 14 orang. *perasaan mulai nggak enak* :P

Menjelang maghrib, kita cari makan di alun-alun yang hanya berjarak beberapa meter saja. Di sana sudah ramai dengan wisatawan ataupun penduduk sekitar yang sedang main bola. Tentu saja tempat seperti itu tidak akan dilewatkan oleh para penjajah makanan. Dari mulai tela-tela sampai es pisang hijau ada di sana. Setelah itu kami kembali ke homestay dan bergantian menggunakan kamar mandi dan bersiap-siap ke pantai Escape to celebrate new year 2011.

Malam-malam tak terlupakan di Karimunjawa was just begun at that night. Sepanjang perjalanan kami ke pantai Escape, hilir mudik muda mudi entah itu the origin atau turis. Dan setelah melewati bibir pantai dan naik turun bukit, akhirnya kita sampai di pantai Escape. Di sana sudah ada geng nEro yang sedang asyik bercengkrama. Sampai di sana kita langsung menyantap hidangan yang sudah tersedia. Kita menikmati makan malam bersama dengan semilir angin yang membuat saya seakan masih bergoyang-goyang seperti di KMP Muria siang tadi.

Tak sabar menunggu detik-detik pergantian tahun, kembang api mulai kami nyalakan. Suaranya memekakkan telinga memecah keheningan di pulau ini. Cahayanya bersinar terang di langit Karimunjawa yang agak mendung saat itu. Rupanya kembang api kami memancing orang lain untuk memyalakannya juga. Tapi itu hanya pemanasan saja. Karena pergantian hari masih cukup lama. Kami kembali bercengkrama, mengawali acara dengan memperkenalkan diri satu sama lain karena memang banyak di antara kami yang belum saling kenal. Selanjutnya acara bebas. Ada yang bermain kartu, ngobrol-ngobrol, dan tentu saja berfoto-foto. Sementara itu, pelayan Escape tengah menyiapkan ikan-ikan yang akan kita bakar dan santap lagi. Tapi karena asiknya bersenda gurau dengan teman, kita malah jadi males bakar. Akhirnya mereka juga yang bakar ikan kita. Setelah matang, barulah kita menikmatinya. Walau sudah tidak terlalu berselera, beberapa dari kita tetep menyantap ikan tongkol dan kakap merah yang menggoda di atas meja.

Detik-detik pergantian tahun semakin dekat. Suara dan nyala kembang api mulai riuh rendah terdengar dari berbagai penjuru pulau. Selain rombongan kami, ada juga satu rombongan lain dilokasi pantai Escape itu. Satu demi satu kembang api diluncurkan. Dan puncaknya ketika tahun dan hari berganti. Langit Karimunjawa yang gelap menjadi terang karena kembang api. Para kru kapal Muria tak mau ketinggalan moment. Mereka menembakkan suar tanda bahaya ke langit. Sesaat saya teringat adegan film Titanic. Kru kapal juga beberapa kali menyalakan sinyal kapal yang menambah suasana pergantian tahun menjadi ramai.

Setelah tahun berganti dan memberikan selamat satu sama lain. Kita kembali bercengkrama. Namun kali ini ada yang request diramal. Akhirnya acara meramal menggunakan kartu remi pun tak terelakkan lagi. Dari mulai jodoh, karir, sampai meramal kapan lulus kuliah. Haha…

Setelah dirasa hari kian beranjak pagi, kami berkemas untuk pulang ke Homestay. Menyiapkan tenaga untuk snorkeling dan hopping island seharian besok. Ikan kakap merah dan tongkol yang masih banyak dimeja kami bungkus untuk makan besok. Kami melewati satu malam baru yang berkesan dengan teman-teman baru yang menyenangkan.

Pagi hari di hari pertama tahun 2011. Awal tahun baru yang cerah. Hari ini kita akan menghabiskan seharian full keliling pulau dan bersenorkeling ria. Setelah bergantian mandi, kita sarapan dulu di alun-alun. Setelah itu baru berangkat ke pelabuhan nelayan yang jaraknya hanya beberapa meter saja dari alun-alun. Di sana guide dan ABK sudah tak sabar menunggu rombongan yang bersemboyan “lugu outside liar inside” ini. Haha.. habisnya keliatannya aja pada diem-diem. Padahal…

Trip Karimunjawa part II silahkan ke sini.

Friday, 31 December 2010

Pengemis Kecil di Coyo

Begitu memasuki terminal, benar saja dugaanku. Para calo langsung mengerubutiku seperti laron yang tak kuasa melihat cahaya. Dengan senyuman maut dan lambaian tanganku, ku katakan "tidak" untuk pertanyaan mereka. Hal itu akua lakukan karena beberapa orang mengatakan terminal Cirebon punya "calo maut". Tapi kalo aku lihat, sepertinya biasa saja. Layaknya para calo di manapun mereka berada. Namanya juga calo... -__-

Setelah mendapat tiket, aku langsung menaiki Coyo. Armada bus yang baru aku tahu belakangan ini. Di dalam tampak sudah ada seorang ibu berkerudung dengan anak laki-laki di sampingnya duduk di bangku paling depan sebelah pintu masuk. Seorang bapak juga sedang mengatur barang bawaannya dan bersiap duduk dengan putra kecilnya di bangku belakang. Sementara bangku lain nampak kosong.

Seorang pedagang asongan senyum manis di tengah bus siap menjajakan dagangannya. Setelah ku putar pandangan ke semua penjuru bus, aku pilih bangku kedua dibelakang pasangan ibu dan anak tadi.

Tak lama setelah aku membiasakan diri dengan keadaan bus, satu persatu para penumpang menaiki bus. Tentu saja pengasong lain tak mau ketinggalan, mereka tak mau kalah menaiki Coyo yang masih bersiap-siap untuk berangkat. Dan dengan penuh kasih sayang ku tolak tawaran-tawaran pengasong. Namun tampaknya tak hanya pengasong yang mencari penghidupan di dalam Coyo. Para pengemis terminal juga menjalankan aksinya. Tapi tetap saja ku tersenyum dan melambaikan tangan. *Pelit!*

Negara ini memang penuh dengan orang-orang yang berusaha keras. Datang padaku seorang anak laki-laki, juga langsung menengadahkan tangannya. Tentu saja sikapku seperti di atas. Tapi ternyata anak ini gigih, dia bilang, "seikhlasnya... untuk makan."

Oke, akhirnya terjadilah percakapan dibawah;

SY: "sekolah, nggak?"

PK: "sekolah..."

SY: "kelas berapa?"

PK: "empat..."

Oke, aku memikirkan sesuatu untuk dia jawab.

SY: "empat kali empat berapa? Kalo bisa jawab, aku kasih duit."

PK: "empat!" dia menjawab tanpa berfikir -__-

SY: "empat kali empat. Empatnya ada empat. Berapa?" Ku pertegas

PK: "delapan..." Kali ini dia berfikir tiga detik

SY: "belum benar. Coba itung lagi. Empatnya ada empat."

Ku lihat sekarang dia merapal suatu mantra. Tapi samar-samar ku dengar dia mengucapkan beberapa angka. Ooh.. dia sedang menghitung. Ku tunggu saja.

PK: "enam belas..."

SY: "ya, benar.." Aku merogoh kantong celana dan memberinya gope *pelit* "Mau uang lagi? Enam belas dibagi empat berapa? Kamu punya permen 16, dibagi untuk 4 orang. Satu orangnya dapet berapa permen?"

PK: "permennya berapa?" Dia meminta mengulang pertanyaan.

-__-"

SY: "Kamu punya permen 16, dibagi untuk 4 orang. Satu orangnya dapet berapa permen?"

Ku lihat dia tersenyum sebentar dan kembali merapal angka-angka. Di belakang si pengemis kecil, masih ada pengasong yang dari awal aku masuk dia duduk disana. Nampaknya dia tertarik dengan apa yang sedang aku lakukan dengan si anak ini. (AS=asongan)

AS: "jawab, tuh! Ntar dapet duit"

SY: "enggak, cuma nanya doang.."

Aku ngomong gitu, si anak tadi malah pergi. Jyaaah... kecil-kecil mata duitan ni anak. Dia kira kali ini saya nggak akan ngasih duit. Padahal saya tadi becanda sama si pengasong. Setelah ku lihat si pengemis kecil jalan ke belakang bus, ternyata dia balik lagi. -__- hmm... Mau duit juga kan lo?

PK: "permennya empat..." dia bilang tiba-tiba begitu nyamperin saya lagi.

Tapi karena saya kira dia tidak akan menjawab. Saya malah kurang merhatiin apa yang si PK tadi bilang. Dalam sekian detik saya langsung tersadar. Ooh, dia bilang tadi permennya 4 untuk setiap anak.

SY: "Oke, jawaban kamu benar..."

Saya kembali merogoh saku celana. Langsung kasih gope lagi buat si pengemis kecil.
*pelit amat ngasih gope mulu :p* :D

Tuesday, 14 December 2010

JOGJA: FOR HUMANITY


Perjalanan Pertama dengan Misi Kemanusiaan

Sepertinya, setiap hal yang saya lakukan selalu menjadi hal yang pertama. Seperti halnya trip saya kali ini. Untuk pertama kalinya saya pergi ke suatu tempat karena panggilan hati yang ingin membantu sesama yang sedang dicoba dengan kemalangan. Ini juga perjalanan pertama saya berangkat dari Cirebon, kota kelahiran saya sendiri.

Sejak Jogja dan beberapa kota di Jawa Tengah tertimpa musibah karena gunung Merapi meletus, hati saya sudah tergerak ingin sekali bisa berpartisipasi dalam meringankan duka mereka. Hal yang saya pikirkan bisa membantu adalah menghibur anak-anak korban bencana dari traumatis pasca bencana yang mereka alami. Mereka kehilangan rumah, mungkin juga kehilangan orang tua dan saudara. Anak-anak juga tidak bisa bersekolah dan bermain layaknya yang semestinya terjadi dalam dunia anak.

Dan akhirnya kesempatan itupun datang. Ternyata Dia menjawab bisikan hati saya. Pucuk dicinta KIT pun tiba. Kaskus Indonesian Traveler (KIT) ingin mengadakan baksos untuk korban bencana gunung Merapi. Tanpa berpikir panjaaaaang dan lamaaaaaaaaa saya langsung menghubungi Shanti salah satu dedengkot KIT untuk menanyakan apakah saya bisa ikut berpartisipasi. Ternyata bisa! Hati saya bergemuruh layaknya gemuruh Merapi yang meresahkan para pengungsi. :D

Tapi ternyata niat baik memang selalu harus menghadapi ujian. Hati saya bergejolak layaknya lava panas yang disemburkan merapi. Haha… bahasanya biar nyambung sama merapi. Hati saya bimbang dan ragu walau tak pilu. Masalahnya saya sekarang sudah berada di rumah. Segala aktifitas saya terpantau sama mamah sama papah. Hahaha... gaya. Biasayanya juga manggilnya mimi sama bapak :

Iya, ini bulan-bulan pertama saya kembali menetap di rumah setelah 10 tahun diasingkan dari rumah Sejak lulus SD emang udah merantau jauh dari ortu. Dulu, kalo mau ke mana-mana tinggal berangkat aja. Orang tua tau setelah berbulan-bulan. Tapi sekarang...

“Udah, bohong aja sama ortu. Bilang aja mau legalisir ke Bandung buat nglamar kerja,” kata iblis merah sebelah kiri saya.

“Ingat, kamu ke sana mau ketemu sama Merapi yang lagi ganas-ganasnya. Gimana pas lagi di pengungsian trus kamu dihajar wedhus gembel? Ato lu penyakitan kebanyakan ngehirup abu vulkanik yang bisa mengoyak jaringan di paru-paru kamu, merusak mata kamu, trus kamu mati. Kamu mau mati sebagai anak durhaka yang bohongin ortu?” Itu kata malaikat putih sebelah kiri saya.

DIAM SEMUAAAAAA… Setelah ngliat kanan, ke white angel dan ke kiri, ke red devil, akhirnya saya ambil jalan tengah aja. Saya tetep akan menjalankan misi ini dengan alasan yang diusulin red devil. Tapi saya juga gak akan bohong, setelah dari Jogja, baru saya ke Bandung untuk legalisir ijazah. Hehe... Nanti setelah balik lagi ke rumah saya baru jujur habis maen sama WEDHUS GEMBEL. “Kalo ga balik gimna?” Buset! Siapa tu yang bicara sembarangan? Insa aloh saya balik dengan selamat!!!

Akhirnya dengan alasan itu, bulatlah tekad saya untuk berancuuut, setelah sebelumnya saya harus cencelin jadwal ngajar hari Sabtu. Hari Jumat balik ngajar jam 17.30 saya ngga pulang ke rumah. Langsung cari perlengkapan buat ke Jogja. Di rumah temen, saya nunggu malem. Soalnya kereta datang jam 00.30 di Stasium Kejaksan Cirebon. Kebetulan temen saya kalo malem mamahnya bangun buat bikin sate kentang. Jadi sekalian nemenin mamahnya temen bikin sate kentang.

Jam 22.00 saya pamit sama temen saya dan mamahnya. Mereka melepas kepergian saya udah kaya mau melepas ke medan pertempuran aja. Air mata darah keluar dari mata mereka sembari meraung-raung menangisi kepergian saya. Sory itu lebay dibikin-bikin. Hahaha.. Dari rumah temen ke jalan raya harus jalan kaki 10 menitan. Di malam yang sunyi sepi dan gelap saya harus melewati kuburan pulak! Tak apalah demi misi kemanusiaan, hatiku menegarkan. Sesampainya di jalan raya, ternyata jalanan begitu lengang. Hanya sedikit kendaraan yang melintas. Tapi saya yakin pasti ada angkot yang akan membawa saya ke stasiun. Ternyata setelah beberapa lama datanglah angkot. Thanks god, dalam hatiku. Tapi ternyata setelah saya masuk angkot, ALAMAAAAAK… BENCOOOONG. Di angkot itu gada siapa-siapa selain saya dan banci malam itu. Tuhaaaan cobaan apa lagi yang harus saya terima. TOLONGIN AIM YA OLOOOH… Dan ternyata banci itu ngga nakal, dia diem aja. Mungkin dikira temannya juga. THANKS, GOD!

Nyampe stasiun jam 11an malem. Tapi sebelum masuk stasiun saya harus beli pesenan Nasi Jamblang temen-temen dari Jakarta yang pada kelaperan di kereta. Mereka naik KA Progo dari St. Pasar Senen lewat jalur utara. Jadi, nanti mereka lewat St. Kejaksan Cirebon. Di sanalah kelak saya akan bertemu dengan mereka untuk pertama kali di dunia nyata. Karena selama ini saya hanya berkomunikasi dengan mereka melalui dunia halus. Maksudnya di dunia maya. 

Sebut saja Om Harry Porter, namanya selalu muncul di grup Kaskus Indonesian Traveller. Atau dikenal juga dengan sebutan Suhu. Karena menjadi salah satu sesepuh forum traveler di kaskus (yang saya tahu). Dari seberang sana terdengar di henpon suara riuh temen-temen yang lain di kereta saat Shanti nelpon saya untuk memsan Nasi Jamblang.

Okay, sekarang saya udah di dalam stasiun. Kurang lebih 15 menit lagi seharusnya kereta dateng. Walaupun saya tahu dia tak akan datang tepat waktu. Pasti dia akan ingkar janji. Aku benci… benci… *sambil pukul-pukul manja bahu orang lewat* Bener dugaan saya, kereta tak datang tepat waktu. Tapi tetep aja saya dibuat jengkel olehnya. Abis telatnya tak main-main sampai satu jam lebih. Setelah saya hampir menyerah untuk hidup, barulah dia datang TEPAT jam 02.30an. Huff… inilah kenapa saya cinta hidup di negeri ini. Slooow but unsuuure…

Seperti yang sudah dibilang Shanti sebelumnya, mereka dapet duduk di gerbong paaaling belakang. Jadi tanpa aba-aba, saya langsung menuju ke sana. Sambil jalan ke pintu saya liat orang-orang di jendela, mana kira-kira makhluk-makhluk itu? Dan tiba-tiba dari jendela kereta muncul sosok yang belum pernah saya jumpai sebelumnya namun nampak tak asing bagi saya. Harry…. Harry Potter…. Iya, itu pasti dia. Liat kaca mata bulat itu. Kemudian sosok itu pun melihat ke arah saya, tak henti-hentinya mata itu memandang? Saya jadi curiga… jangan… jangan… dia adalaaah…

“Jamblang ya?” tiba-tiba dia berkata. Ooooooooh.. ternyata dari tadi dia ngga liat ke arah saya. Dia liat nasi jamblangnya. Hahaha…

Sampai di pintu saya belum bisa naik, kereta ternyata saaangat penuh. Para penumpang berhamburan keluar kereta seperti semut yang terusik. Mereka mengambil kesempatan untuk menghirup udara di luar setelah berlama-lama berada di dalam kereta yang panas dan pengap terisi oleh jumlah penumpang yang tak sesuai kapasitasnya. Akhirnya dengan susah payah saya bisa masuk ke dalam kereta. Bau manusia langsung tercium. Dahsyat sekali, manusia berada di mana-mana. Tak ada sejengkalpun yang kosong. Bahkan ada orang yang tidur di bawah kolong kursi. Hmm… Inilah kereta eksekutif Progo. Sampai di dalam saya langsung menawarkan dagangan, “sheee nasheeee jamblaaaang… yang makaaaan…. Jamblaaang kenyaaaang…!!!"

Setelah beberapa lama, kereta sedikit demi sedikit mulai meninggalkan Cirebon. Rasa haru menerpa saya. Tanpa terasa ada air yang mulai menetes tes.. tes… dari telinga. Wakakaka congeeeek!!! 

Saya mulai berkenalan dengan beberapa rombongan dari Jakarta. Terasa canggung. Karena memang first meet dan jarang chit chat di dunia maya juga. Tapi tingkah laku mereka yang kocak, gokil, dan lucu nggak jelas membuat saya mulai membaur nice and slow. Sepaanjang perjalanan para relawan ini selalu becanda, bercengkrama, dan bersenda gurau. Semoga saja penumpang lain tak terusik dibuatnya. Huff, RELAWAN STRESS!!!

Stasiun demi stasiun mulai terlewati. Detik berganti menit dan menitpun berganti jam. Habis gelap terbitlah telang. Rajin pangkal pandai dan malas pangkal bodoh. Loh? Pribahasa yang terakhir nggak nyambung. 

Setelah langit mulai cerah, nampak daun pepohonan berwarna putih tertutup abu vulkanik. Itu berarti Jogja semakin dekat. Kami langsung mengenakan masker untuk melindungi pernapasan. Sewaktu menunggu kereta, temen saya mengingatkan lewat sms, “sekilas info. Abu vulkanik komposisinya 20% silica, mirip bahan industry kaca dan merupakan glass hard yang sangat halus. Tetapi jika dilihat dengan microscope, ujungnya runcing. Jika terhirup akan merobek jaringan paru-paru. Jika terkena mata bisa merusak mata dan hidung kita. Sebarkan jika peduli”

Jam 08.00 pagi akhirnya sampai Jogja juga. Setelah seluruh penumpang lain turun, kami menurunkan barang bawaan untuk para pengungsi. Ada obat-obatan, pakaian dalam pria dan wanita, kebutuhan bulanan wanita, dll. Setelah keluar kereta, saya melihat sekitar. Ini beneran Jogja? Kok aman-aman aja? Gak seperti yang diberitakan media. Beneran ada bencana ga ni? Memang sebagian dari mereka juga menggunakan masker, yang nampaknya pengunjung seperti kita. Tapi sebagian yang lain nyantai-nyantai aja kayak gada apa-apa. Semua aktifitas berjalan normal.

Setelah semua relawan dan barang-barang kumpul, kita langsung menuju mobil yang kita sewa untuk aktifitas selama di Jogja. Karena jumlah relawan yang banyak, kita sewa dua mobil yang di supiri oleh Arif dan Tio yang selalu didampingi oleh Om Harry. Sepaaaanjang perjalanan mereka selalu mengumbar kemesraan. Rayuan Om Harry yang mesrah kepada Tio membuat Rama yang duduk di belakangnya uring-uringan. 

Tujuan pertama kita di rumah salah satu temen, entah siapa saya tak kenal, untuk bersih-bersih dan istirahat sejenak. Tapi ternyata air di kosan temen ndak memadai untuk kita semua mandi. Akhirnya kita pindah lokasi ke temen yang lain, yang juga saya ndak kenal. Lokasinya di Jl. Sosrowijayan, deket dengan Malioboro. Sesampainya di sana kita langsung bergantian mandi karena kamar mandi cuma ada dua untuk 16 orang. Sebagian ada yang cari makan dulu karena tak bisa menahan rasa lapar yang melilit. Ada juga yang tak bisa menahan diri untuk berbelanja. Haha.. Relawan atau Wisatawan? 

Setelah itu beberapa orang harus pergi belanja untuk membeli kebutuhan para pengungsi seperti makanan bayi, minyak, bawang, telor, dan lain-lain. Sementara sebagian yang lain ada yang kembali ke Stasiun untuk mengambil barang-barang yang dibawa oleh kereta kargo seperti baju-baju layak pakai, kasur, dll. Dan sisanya istirahat mengumpulkan tenaga untuk menuju ke tempat pengungsian.

Tujuan pertama kami untuk belanja adalah Pasar Bringharjo. Bisa ditempuh dengan bejalan kaki dari tempat kami menginap. Selain kita, di sana juga banyak relawan lain yang sedang belanja kebutuhan pengungsi. Sehingga barang-barang seperti selimut (yang murah), baju anak (yang murah) sudah habis terjual. Barang yang ingin kami beli tidak ditemukan di sana. Shinta dan Ami memutuskan untuk ke Carefour. Mereka hanya berdua saja dengan menaiki Trans Jogja. Selanjutnya barang-barang belanjaan mereka akan dijemput oleh mobil setelah dari stasiun. Untuk beras, kita dibantu oleh pemilik tempat kita nginep. Beras langsung dianter ke tempat kita. Oya, ada juga dua personel yang baru dateng. Tante Getha dan temannya. Mereka ke jogja pake trevel.

Setelah semua barang kebutuhan pengungsi terbeli, kita langsung berkemas untuk berangkat ke tempat pengungsian dengan terlebih dahulu ke tempat salah seorang rekan yang menjadi base camp relawan untuk para korban Merapi juga. Di sana kita bergabung, breafing, dan langsung berangkat ke lokasi sekitar pukul 16.00. Tujuan kita adalah Kabupaten Boyolali. Konon pengungsi di sana masih kurang tersentuh bantuan. Makannya kita pilih untuk mengirim bantuan kesana. Perjalan kami tempuh kurang lebih 4 jam.