Sunday, 9 January 2011

Trip Karimunjawa: Un Viaggio per Il Paradiso (Part I)


Hadiah tahun baru yang indah di Karimunjawa

Setelah kurang lebih 2 bulan kita merencanakan perjalanan ke Karimunjawa, akhirnya akhir tahun 2010 sampai awal tahun 2011 kami berada ke pulau seribu kenangan ini. Dimana kita merasa gembira, sedih, cemas, duka, terharu, merana, terpesona, jatuh cinta, derita, tawa, dan lara. Itu semua kita lalui dengan 19 orang dari berbagai macam daerah, suku, bahasa, dan agama yang berbeda namun bersatu untuk saling berbagi kebahagiaan. Ke-19 orang itu dilihat dari kota keberangkatan adalah; Ero, Sang, Rhaga, Witri Dhini, dan Pravi dari Jakarta, Adrian, Imelda, Lova, dan Eka dari Bekasi, Erny dari Bandung, Sem dan Tikno dari Semarang, Bayu, Anggi, Vina, Satria, dan Indah dari Jogja, dan saya sendiri dari Cirebon.

Tanggal 30 Desember 2010 hari Kamis, saya mengawali perjalan dari Cirebon jam 10.30 dengan menggunakan bus Coyo. Disusul dengan Rombongan Jogja yg berangkat dari Terminal Jombor. Rombongan Bekasi memulai perjalanan menjelang maghrib dari Rawamangun. Geng nEro berangkat setelah matahari terbenam. Rombongan dari Semarang bersepeda motor di tengah malam yang diguyur hujan lebat.

Jogja, Bandung, Cirebon bertemu di Terminal Terboyo Semarang saat matahari mulai hilang. Rencana awal kita mau pake bus kecil ke Jepara. Tapi karena menunggu Erny yang masih di dalam Travel Joglosemar, kita ketinggalan bus terakhir yang berangkat pukul 19.00. Akhirnya kita putuskan untuk naik travel saja. Setelah bersilat lidah dengan supir travel yang bersikap tak menyenangkan, kita mengambil travel yang lain dan meninggalkan keriuhan terminal yang macet, bising, hujan, dan becek itu tepat pukul 19.30. Dua jam kemudian, pukul 21.30 kami sampai di Pelabuhan Kartini Jepara.

Karena lapar, kita langsung menyantap makanan yang kita beli di perjalanan dari Semarang tadi. Setelah itu, ada yang langsung bersarang di Mushola deket Pub, ada juga yang nonton tv sambil ngopi, ngemih, ngecas HP. Pasangan sejoli dari semarang datang puluk 02.00 ketika langit masih menangis. Dan dengan terasa waktu berlalu begitu lama menunggu pagi. Menjelang subuh, wisatawan lain mulai berdatangan berduyun-duyun. Mereka mulai memadati pelabuhan hingga matahari terbangun dari peraduannya. Rombongan Bekasi datang lebih dulu, setelah itu barulah geng nEro datang.

Ketika loket dibuka, kami langsung menyerbunya. Kita dibagi menjadi 2 strata. Untuk rakyat jelatah masuk kelas ekonomi. Golongan ningrat tentu saja ndak mau menghirup apalagi menginjakkan sandalnya di dek economi class karena itu penghinaan buat mereka. Hahaha.. lebay. Lamaaaa kita menunggu kapal berangkat. Akhirnya kapal mengangkat jangkarnya juga pukul 09.30. Ombak yang begitu besar menggoyang Ferry yang “bangga menyatukan bangsa” sejak kami mulai meninggalkan pelabuhan sampai samar-samar pulau Jawa terlihat dan akhirnya menghilang. Tidaaaak pulau jawa hilaaang!! :p

Di dalam kapal, tidak banyak yang bisa kami lakukan karena gelombang laut semakin menjadi-jadi hingga beberapa dari kami jekpot. Kapal Motor Penumpang Muria saat itu tidak terlalu penuh. Beberapa orang bisa memakai lebih dari satu kursi untuk berbaring. Selain dek tengah, dek atas adalah salah satu spot favorit para penumpang untuk tiduran atau menikmati indahnya gelombang laut yang menggulung-gulung tinggi dan terpecah oleh KMP Muria yang menyisakan buih putih. Dan salah satu moment yang tak terlupakan adalah kami melihat kawanan ikan terbang yang beberapa kali muncul ke permukan dan terbang dengan indahnya bermanufer membentu formasi yang menakjubkan. Setelah enam jam lebih kami bersama-sama mengarungi laut Jawa, akhirnya kami melihat sebuah daratan. Karimunjawaaa… here it is! Tepat jam 5 sore kami merapat ke dermaga dan ternyata sudah ditunggu oleh Mas Kamit yang akan membantu kita mengurus semua keperluan disini. Setelah mengabadikan moment di gerbang selamat datang, kami diantar mobil jemputan yang ternyata bayar namun digratiskan, menuju homestay.

Malam pertama kita dibagi menjadi dua homestay. Selain Bang Sang, semua geng nEro memisahkan diri. Mereka dapat homestay yang beda untuk satu malam pertama. Malam selanjutnya mereka menginap di Escape. Kami dapat 4 Kamar untuk 6 cewek dan 8 cowok. Kaum wanita dibagi rata, tapi yang laki dibagi 5 dan 3 karena satu kamar memang lebih sempit. Selain 4 kamar, kita juga punya ruang tv dan ruang tengah dengan 1 kamar mandi untuk 14 orang. *perasaan mulai nggak enak* :P

Menjelang maghrib, kita cari makan di alun-alun yang hanya berjarak beberapa meter saja. Di sana sudah ramai dengan wisatawan ataupun penduduk sekitar yang sedang main bola. Tentu saja tempat seperti itu tidak akan dilewatkan oleh para penjajah makanan. Dari mulai tela-tela sampai es pisang hijau ada di sana. Setelah itu kami kembali ke homestay dan bergantian menggunakan kamar mandi dan bersiap-siap ke pantai Escape to celebrate new year 2011.

Malam-malam tak terlupakan di Karimunjawa was just begun at that night. Sepanjang perjalanan kami ke pantai Escape, hilir mudik muda mudi entah itu the origin atau turis. Dan setelah melewati bibir pantai dan naik turun bukit, akhirnya kita sampai di pantai Escape. Di sana sudah ada geng nEro yang sedang asyik bercengkrama. Sampai di sana kita langsung menyantap hidangan yang sudah tersedia. Kita menikmati makan malam bersama dengan semilir angin yang membuat saya seakan masih bergoyang-goyang seperti di KMP Muria siang tadi.

Tak sabar menunggu detik-detik pergantian tahun, kembang api mulai kami nyalakan. Suaranya memekakkan telinga memecah keheningan di pulau ini. Cahayanya bersinar terang di langit Karimunjawa yang agak mendung saat itu. Rupanya kembang api kami memancing orang lain untuk memyalakannya juga. Tapi itu hanya pemanasan saja. Karena pergantian hari masih cukup lama. Kami kembali bercengkrama, mengawali acara dengan memperkenalkan diri satu sama lain karena memang banyak di antara kami yang belum saling kenal. Selanjutnya acara bebas. Ada yang bermain kartu, ngobrol-ngobrol, dan tentu saja berfoto-foto. Sementara itu, pelayan Escape tengah menyiapkan ikan-ikan yang akan kita bakar dan santap lagi. Tapi karena asiknya bersenda gurau dengan teman, kita malah jadi males bakar. Akhirnya mereka juga yang bakar ikan kita. Setelah matang, barulah kita menikmatinya. Walau sudah tidak terlalu berselera, beberapa dari kita tetep menyantap ikan tongkol dan kakap merah yang menggoda di atas meja.

Detik-detik pergantian tahun semakin dekat. Suara dan nyala kembang api mulai riuh rendah terdengar dari berbagai penjuru pulau. Selain rombongan kami, ada juga satu rombongan lain dilokasi pantai Escape itu. Satu demi satu kembang api diluncurkan. Dan puncaknya ketika tahun dan hari berganti. Langit Karimunjawa yang gelap menjadi terang karena kembang api. Para kru kapal Muria tak mau ketinggalan moment. Mereka menembakkan suar tanda bahaya ke langit. Sesaat saya teringat adegan film Titanic. Kru kapal juga beberapa kali menyalakan sinyal kapal yang menambah suasana pergantian tahun menjadi ramai.

Setelah tahun berganti dan memberikan selamat satu sama lain. Kita kembali bercengkrama. Namun kali ini ada yang request diramal. Akhirnya acara meramal menggunakan kartu remi pun tak terelakkan lagi. Dari mulai jodoh, karir, sampai meramal kapan lulus kuliah. Haha…

Setelah dirasa hari kian beranjak pagi, kami berkemas untuk pulang ke Homestay. Menyiapkan tenaga untuk snorkeling dan hopping island seharian besok. Ikan kakap merah dan tongkol yang masih banyak dimeja kami bungkus untuk makan besok. Kami melewati satu malam baru yang berkesan dengan teman-teman baru yang menyenangkan.

Pagi hari di hari pertama tahun 2011. Awal tahun baru yang cerah. Hari ini kita akan menghabiskan seharian full keliling pulau dan bersenorkeling ria. Setelah bergantian mandi, kita sarapan dulu di alun-alun. Setelah itu baru berangkat ke pelabuhan nelayan yang jaraknya hanya beberapa meter saja dari alun-alun. Di sana guide dan ABK sudah tak sabar menunggu rombongan yang bersemboyan “lugu outside liar inside” ini. Haha.. habisnya keliatannya aja pada diem-diem. Padahal…

Trip Karimunjawa part II silahkan ke sini.

Friday, 31 December 2010

Pengemis Kecil di Coyo

Begitu memasuki terminal, benar saja dugaanku. Para calo langsung mengerubutiku seperti laron yang tak kuasa melihat cahaya. Dengan senyuman maut dan lambaian tanganku, ku katakan "tidak" untuk pertanyaan mereka. Hal itu akua lakukan karena beberapa orang mengatakan terminal Cirebon punya "calo maut". Tapi kalo aku lihat, sepertinya biasa saja. Layaknya para calo di manapun mereka berada. Namanya juga calo... -__-

Setelah mendapat tiket, aku langsung menaiki Coyo. Armada bus yang baru aku tahu belakangan ini. Di dalam tampak sudah ada seorang ibu berkerudung dengan anak laki-laki di sampingnya duduk di bangku paling depan sebelah pintu masuk. Seorang bapak juga sedang mengatur barang bawaannya dan bersiap duduk dengan putra kecilnya di bangku belakang. Sementara bangku lain nampak kosong.

Seorang pedagang asongan senyum manis di tengah bus siap menjajakan dagangannya. Setelah ku putar pandangan ke semua penjuru bus, aku pilih bangku kedua dibelakang pasangan ibu dan anak tadi.

Tak lama setelah aku membiasakan diri dengan keadaan bus, satu persatu para penumpang menaiki bus. Tentu saja pengasong lain tak mau ketinggalan, mereka tak mau kalah menaiki Coyo yang masih bersiap-siap untuk berangkat. Dan dengan penuh kasih sayang ku tolak tawaran-tawaran pengasong. Namun tampaknya tak hanya pengasong yang mencari penghidupan di dalam Coyo. Para pengemis terminal juga menjalankan aksinya. Tapi tetap saja ku tersenyum dan melambaikan tangan. *Pelit!*

Negara ini memang penuh dengan orang-orang yang berusaha keras. Datang padaku seorang anak laki-laki, juga langsung menengadahkan tangannya. Tentu saja sikapku seperti di atas. Tapi ternyata anak ini gigih, dia bilang, "seikhlasnya... untuk makan."

Oke, akhirnya terjadilah percakapan dibawah;

SY: "sekolah, nggak?"

PK: "sekolah..."

SY: "kelas berapa?"

PK: "empat..."

Oke, aku memikirkan sesuatu untuk dia jawab.

SY: "empat kali empat berapa? Kalo bisa jawab, aku kasih duit."

PK: "empat!" dia menjawab tanpa berfikir -__-

SY: "empat kali empat. Empatnya ada empat. Berapa?" Ku pertegas

PK: "delapan..." Kali ini dia berfikir tiga detik

SY: "belum benar. Coba itung lagi. Empatnya ada empat."

Ku lihat sekarang dia merapal suatu mantra. Tapi samar-samar ku dengar dia mengucapkan beberapa angka. Ooh.. dia sedang menghitung. Ku tunggu saja.

PK: "enam belas..."

SY: "ya, benar.." Aku merogoh kantong celana dan memberinya gope *pelit* "Mau uang lagi? Enam belas dibagi empat berapa? Kamu punya permen 16, dibagi untuk 4 orang. Satu orangnya dapet berapa permen?"

PK: "permennya berapa?" Dia meminta mengulang pertanyaan.

-__-"

SY: "Kamu punya permen 16, dibagi untuk 4 orang. Satu orangnya dapet berapa permen?"

Ku lihat dia tersenyum sebentar dan kembali merapal angka-angka. Di belakang si pengemis kecil, masih ada pengasong yang dari awal aku masuk dia duduk disana. Nampaknya dia tertarik dengan apa yang sedang aku lakukan dengan si anak ini. (AS=asongan)

AS: "jawab, tuh! Ntar dapet duit"

SY: "enggak, cuma nanya doang.."

Aku ngomong gitu, si anak tadi malah pergi. Jyaaah... kecil-kecil mata duitan ni anak. Dia kira kali ini saya nggak akan ngasih duit. Padahal saya tadi becanda sama si pengasong. Setelah ku lihat si pengemis kecil jalan ke belakang bus, ternyata dia balik lagi. -__- hmm... Mau duit juga kan lo?

PK: "permennya empat..." dia bilang tiba-tiba begitu nyamperin saya lagi.

Tapi karena saya kira dia tidak akan menjawab. Saya malah kurang merhatiin apa yang si PK tadi bilang. Dalam sekian detik saya langsung tersadar. Ooh, dia bilang tadi permennya 4 untuk setiap anak.

SY: "Oke, jawaban kamu benar..."

Saya kembali merogoh saku celana. Langsung kasih gope lagi buat si pengemis kecil.
*pelit amat ngasih gope mulu :p* :D

Tuesday, 14 December 2010

JOGJA: FOR HUMANITY


Perjalanan Pertama dengan Misi Kemanusiaan

Sepertinya, setiap hal yang saya lakukan selalu menjadi hal yang pertama. Seperti halnya trip saya kali ini. Untuk pertama kalinya saya pergi ke suatu tempat karena panggilan hati yang ingin membantu sesama yang sedang dicoba dengan kemalangan. Ini juga perjalanan pertama saya berangkat dari Cirebon, kota kelahiran saya sendiri.

Sejak Jogja dan beberapa kota di Jawa Tengah tertimpa musibah karena gunung Merapi meletus, hati saya sudah tergerak ingin sekali bisa berpartisipasi dalam meringankan duka mereka. Hal yang saya pikirkan bisa membantu adalah menghibur anak-anak korban bencana dari traumatis pasca bencana yang mereka alami. Mereka kehilangan rumah, mungkin juga kehilangan orang tua dan saudara. Anak-anak juga tidak bisa bersekolah dan bermain layaknya yang semestinya terjadi dalam dunia anak.

Dan akhirnya kesempatan itupun datang. Ternyata Dia menjawab bisikan hati saya. Pucuk dicinta KIT pun tiba. Kaskus Indonesian Traveler (KIT) ingin mengadakan baksos untuk korban bencana gunung Merapi. Tanpa berpikir panjaaaaang dan lamaaaaaaaaa saya langsung menghubungi Shanti salah satu dedengkot KIT untuk menanyakan apakah saya bisa ikut berpartisipasi. Ternyata bisa! Hati saya bergemuruh layaknya gemuruh Merapi yang meresahkan para pengungsi. :D

Tapi ternyata niat baik memang selalu harus menghadapi ujian. Hati saya bergejolak layaknya lava panas yang disemburkan merapi. Haha… bahasanya biar nyambung sama merapi. Hati saya bimbang dan ragu walau tak pilu. Masalahnya saya sekarang sudah berada di rumah. Segala aktifitas saya terpantau sama mamah sama papah. Hahaha... gaya. Biasayanya juga manggilnya mimi sama bapak :

Iya, ini bulan-bulan pertama saya kembali menetap di rumah setelah 10 tahun diasingkan dari rumah Sejak lulus SD emang udah merantau jauh dari ortu. Dulu, kalo mau ke mana-mana tinggal berangkat aja. Orang tua tau setelah berbulan-bulan. Tapi sekarang...

“Udah, bohong aja sama ortu. Bilang aja mau legalisir ke Bandung buat nglamar kerja,” kata iblis merah sebelah kiri saya.

“Ingat, kamu ke sana mau ketemu sama Merapi yang lagi ganas-ganasnya. Gimana pas lagi di pengungsian trus kamu dihajar wedhus gembel? Ato lu penyakitan kebanyakan ngehirup abu vulkanik yang bisa mengoyak jaringan di paru-paru kamu, merusak mata kamu, trus kamu mati. Kamu mau mati sebagai anak durhaka yang bohongin ortu?” Itu kata malaikat putih sebelah kiri saya.

DIAM SEMUAAAAAA… Setelah ngliat kanan, ke white angel dan ke kiri, ke red devil, akhirnya saya ambil jalan tengah aja. Saya tetep akan menjalankan misi ini dengan alasan yang diusulin red devil. Tapi saya juga gak akan bohong, setelah dari Jogja, baru saya ke Bandung untuk legalisir ijazah. Hehe... Nanti setelah balik lagi ke rumah saya baru jujur habis maen sama WEDHUS GEMBEL. “Kalo ga balik gimna?” Buset! Siapa tu yang bicara sembarangan? Insa aloh saya balik dengan selamat!!!

Akhirnya dengan alasan itu, bulatlah tekad saya untuk berancuuut, setelah sebelumnya saya harus cencelin jadwal ngajar hari Sabtu. Hari Jumat balik ngajar jam 17.30 saya ngga pulang ke rumah. Langsung cari perlengkapan buat ke Jogja. Di rumah temen, saya nunggu malem. Soalnya kereta datang jam 00.30 di Stasium Kejaksan Cirebon. Kebetulan temen saya kalo malem mamahnya bangun buat bikin sate kentang. Jadi sekalian nemenin mamahnya temen bikin sate kentang.

Jam 22.00 saya pamit sama temen saya dan mamahnya. Mereka melepas kepergian saya udah kaya mau melepas ke medan pertempuran aja. Air mata darah keluar dari mata mereka sembari meraung-raung menangisi kepergian saya. Sory itu lebay dibikin-bikin. Hahaha.. Dari rumah temen ke jalan raya harus jalan kaki 10 menitan. Di malam yang sunyi sepi dan gelap saya harus melewati kuburan pulak! Tak apalah demi misi kemanusiaan, hatiku menegarkan. Sesampainya di jalan raya, ternyata jalanan begitu lengang. Hanya sedikit kendaraan yang melintas. Tapi saya yakin pasti ada angkot yang akan membawa saya ke stasiun. Ternyata setelah beberapa lama datanglah angkot. Thanks god, dalam hatiku. Tapi ternyata setelah saya masuk angkot, ALAMAAAAAK… BENCOOOONG. Di angkot itu gada siapa-siapa selain saya dan banci malam itu. Tuhaaaan cobaan apa lagi yang harus saya terima. TOLONGIN AIM YA OLOOOH… Dan ternyata banci itu ngga nakal, dia diem aja. Mungkin dikira temannya juga. THANKS, GOD!

Nyampe stasiun jam 11an malem. Tapi sebelum masuk stasiun saya harus beli pesenan Nasi Jamblang temen-temen dari Jakarta yang pada kelaperan di kereta. Mereka naik KA Progo dari St. Pasar Senen lewat jalur utara. Jadi, nanti mereka lewat St. Kejaksan Cirebon. Di sanalah kelak saya akan bertemu dengan mereka untuk pertama kali di dunia nyata. Karena selama ini saya hanya berkomunikasi dengan mereka melalui dunia halus. Maksudnya di dunia maya. 

Sebut saja Om Harry Porter, namanya selalu muncul di grup Kaskus Indonesian Traveller. Atau dikenal juga dengan sebutan Suhu. Karena menjadi salah satu sesepuh forum traveler di kaskus (yang saya tahu). Dari seberang sana terdengar di henpon suara riuh temen-temen yang lain di kereta saat Shanti nelpon saya untuk memsan Nasi Jamblang.

Okay, sekarang saya udah di dalam stasiun. Kurang lebih 15 menit lagi seharusnya kereta dateng. Walaupun saya tahu dia tak akan datang tepat waktu. Pasti dia akan ingkar janji. Aku benci… benci… *sambil pukul-pukul manja bahu orang lewat* Bener dugaan saya, kereta tak datang tepat waktu. Tapi tetep aja saya dibuat jengkel olehnya. Abis telatnya tak main-main sampai satu jam lebih. Setelah saya hampir menyerah untuk hidup, barulah dia datang TEPAT jam 02.30an. Huff… inilah kenapa saya cinta hidup di negeri ini. Slooow but unsuuure…

Seperti yang sudah dibilang Shanti sebelumnya, mereka dapet duduk di gerbong paaaling belakang. Jadi tanpa aba-aba, saya langsung menuju ke sana. Sambil jalan ke pintu saya liat orang-orang di jendela, mana kira-kira makhluk-makhluk itu? Dan tiba-tiba dari jendela kereta muncul sosok yang belum pernah saya jumpai sebelumnya namun nampak tak asing bagi saya. Harry…. Harry Potter…. Iya, itu pasti dia. Liat kaca mata bulat itu. Kemudian sosok itu pun melihat ke arah saya, tak henti-hentinya mata itu memandang? Saya jadi curiga… jangan… jangan… dia adalaaah…

“Jamblang ya?” tiba-tiba dia berkata. Ooooooooh.. ternyata dari tadi dia ngga liat ke arah saya. Dia liat nasi jamblangnya. Hahaha…

Sampai di pintu saya belum bisa naik, kereta ternyata saaangat penuh. Para penumpang berhamburan keluar kereta seperti semut yang terusik. Mereka mengambil kesempatan untuk menghirup udara di luar setelah berlama-lama berada di dalam kereta yang panas dan pengap terisi oleh jumlah penumpang yang tak sesuai kapasitasnya. Akhirnya dengan susah payah saya bisa masuk ke dalam kereta. Bau manusia langsung tercium. Dahsyat sekali, manusia berada di mana-mana. Tak ada sejengkalpun yang kosong. Bahkan ada orang yang tidur di bawah kolong kursi. Hmm… Inilah kereta eksekutif Progo. Sampai di dalam saya langsung menawarkan dagangan, “sheee nasheeee jamblaaaang… yang makaaaan…. Jamblaaang kenyaaaang…!!!"

Setelah beberapa lama, kereta sedikit demi sedikit mulai meninggalkan Cirebon. Rasa haru menerpa saya. Tanpa terasa ada air yang mulai menetes tes.. tes… dari telinga. Wakakaka congeeeek!!! 

Saya mulai berkenalan dengan beberapa rombongan dari Jakarta. Terasa canggung. Karena memang first meet dan jarang chit chat di dunia maya juga. Tapi tingkah laku mereka yang kocak, gokil, dan lucu nggak jelas membuat saya mulai membaur nice and slow. Sepaanjang perjalanan para relawan ini selalu becanda, bercengkrama, dan bersenda gurau. Semoga saja penumpang lain tak terusik dibuatnya. Huff, RELAWAN STRESS!!!

Stasiun demi stasiun mulai terlewati. Detik berganti menit dan menitpun berganti jam. Habis gelap terbitlah telang. Rajin pangkal pandai dan malas pangkal bodoh. Loh? Pribahasa yang terakhir nggak nyambung. 

Setelah langit mulai cerah, nampak daun pepohonan berwarna putih tertutup abu vulkanik. Itu berarti Jogja semakin dekat. Kami langsung mengenakan masker untuk melindungi pernapasan. Sewaktu menunggu kereta, temen saya mengingatkan lewat sms, “sekilas info. Abu vulkanik komposisinya 20% silica, mirip bahan industry kaca dan merupakan glass hard yang sangat halus. Tetapi jika dilihat dengan microscope, ujungnya runcing. Jika terhirup akan merobek jaringan paru-paru. Jika terkena mata bisa merusak mata dan hidung kita. Sebarkan jika peduli”

Jam 08.00 pagi akhirnya sampai Jogja juga. Setelah seluruh penumpang lain turun, kami menurunkan barang bawaan untuk para pengungsi. Ada obat-obatan, pakaian dalam pria dan wanita, kebutuhan bulanan wanita, dll. Setelah keluar kereta, saya melihat sekitar. Ini beneran Jogja? Kok aman-aman aja? Gak seperti yang diberitakan media. Beneran ada bencana ga ni? Memang sebagian dari mereka juga menggunakan masker, yang nampaknya pengunjung seperti kita. Tapi sebagian yang lain nyantai-nyantai aja kayak gada apa-apa. Semua aktifitas berjalan normal.

Setelah semua relawan dan barang-barang kumpul, kita langsung menuju mobil yang kita sewa untuk aktifitas selama di Jogja. Karena jumlah relawan yang banyak, kita sewa dua mobil yang di supiri oleh Arif dan Tio yang selalu didampingi oleh Om Harry. Sepaaaanjang perjalanan mereka selalu mengumbar kemesraan. Rayuan Om Harry yang mesrah kepada Tio membuat Rama yang duduk di belakangnya uring-uringan. 

Tujuan pertama kita di rumah salah satu temen, entah siapa saya tak kenal, untuk bersih-bersih dan istirahat sejenak. Tapi ternyata air di kosan temen ndak memadai untuk kita semua mandi. Akhirnya kita pindah lokasi ke temen yang lain, yang juga saya ndak kenal. Lokasinya di Jl. Sosrowijayan, deket dengan Malioboro. Sesampainya di sana kita langsung bergantian mandi karena kamar mandi cuma ada dua untuk 16 orang. Sebagian ada yang cari makan dulu karena tak bisa menahan rasa lapar yang melilit. Ada juga yang tak bisa menahan diri untuk berbelanja. Haha.. Relawan atau Wisatawan? 

Setelah itu beberapa orang harus pergi belanja untuk membeli kebutuhan para pengungsi seperti makanan bayi, minyak, bawang, telor, dan lain-lain. Sementara sebagian yang lain ada yang kembali ke Stasiun untuk mengambil barang-barang yang dibawa oleh kereta kargo seperti baju-baju layak pakai, kasur, dll. Dan sisanya istirahat mengumpulkan tenaga untuk menuju ke tempat pengungsian.

Tujuan pertama kami untuk belanja adalah Pasar Bringharjo. Bisa ditempuh dengan bejalan kaki dari tempat kami menginap. Selain kita, di sana juga banyak relawan lain yang sedang belanja kebutuhan pengungsi. Sehingga barang-barang seperti selimut (yang murah), baju anak (yang murah) sudah habis terjual. Barang yang ingin kami beli tidak ditemukan di sana. Shinta dan Ami memutuskan untuk ke Carefour. Mereka hanya berdua saja dengan menaiki Trans Jogja. Selanjutnya barang-barang belanjaan mereka akan dijemput oleh mobil setelah dari stasiun. Untuk beras, kita dibantu oleh pemilik tempat kita nginep. Beras langsung dianter ke tempat kita. Oya, ada juga dua personel yang baru dateng. Tante Getha dan temannya. Mereka ke jogja pake trevel.

Setelah semua barang kebutuhan pengungsi terbeli, kita langsung berkemas untuk berangkat ke tempat pengungsian dengan terlebih dahulu ke tempat salah seorang rekan yang menjadi base camp relawan untuk para korban Merapi juga. Di sana kita bergabung, breafing, dan langsung berangkat ke lokasi sekitar pukul 16.00. Tujuan kita adalah Kabupaten Boyolali. Konon pengungsi di sana masih kurang tersentuh bantuan. Makannya kita pilih untuk mengirim bantuan kesana. Perjalan kami tempuh kurang lebih 4 jam.