Begitu memasuki terminal, benar saja dugaanku. Para calo langsung mengerubutiku seperti laron yang tak kuasa melihat cahaya. Dengan senyuman maut dan lambaian tanganku, ku katakan "tidak" untuk pertanyaan mereka. Hal itu akua lakukan karena beberapa orang mengatakan terminal Cirebon punya "calo maut". Tapi kalo aku lihat, sepertinya biasa saja. Layaknya para calo di manapun mereka berada. Namanya juga calo... -__-
Setelah mendapat tiket, aku langsung menaiki Coyo. Armada bus yang baru aku tahu belakangan ini. Di dalam tampak sudah ada seorang ibu berkerudung dengan anak laki-laki di sampingnya duduk di bangku paling depan sebelah pintu masuk. Seorang bapak juga sedang mengatur barang bawaannya dan bersiap duduk dengan putra kecilnya di bangku belakang. Sementara bangku lain nampak kosong.
Seorang pedagang asongan senyum manis di tengah bus siap menjajakan dagangannya. Setelah ku putar pandangan ke semua penjuru bus, aku pilih bangku kedua dibelakang pasangan ibu dan anak tadi.
Tak lama setelah aku membiasakan diri dengan keadaan bus, satu persatu para penumpang menaiki bus. Tentu saja pengasong lain tak mau ketinggalan, mereka tak mau kalah menaiki Coyo yang masih bersiap-siap untuk berangkat. Dan dengan penuh kasih sayang ku tolak tawaran-tawaran pengasong. Namun tampaknya tak hanya pengasong yang mencari penghidupan di dalam Coyo. Para pengemis terminal juga menjalankan aksinya. Tapi tetap saja ku tersenyum dan melambaikan tangan. *Pelit!*
Negara ini memang penuh dengan orang-orang yang berusaha keras. Datang padaku seorang anak laki-laki, juga langsung menengadahkan tangannya. Tentu saja sikapku seperti di atas. Tapi ternyata anak ini gigih, dia bilang, "seikhlasnya... untuk makan."
Oke, akhirnya terjadilah percakapan dibawah;
SY: "sekolah, nggak?"
PK: "sekolah..."
SY: "kelas berapa?"
PK: "empat..."
Oke, aku memikirkan sesuatu untuk dia jawab.
SY: "empat kali empat berapa? Kalo bisa jawab, aku kasih duit."
PK: "empat!" dia menjawab tanpa berfikir -__-
SY: "empat kali empat. Empatnya ada empat. Berapa?" Ku pertegas
PK: "delapan..." Kali ini dia berfikir tiga detik
SY: "belum benar. Coba itung lagi. Empatnya ada empat."
Ku lihat sekarang dia merapal suatu mantra. Tapi samar-samar ku dengar dia mengucapkan beberapa angka. Ooh.. dia sedang menghitung. Ku tunggu saja.
PK: "enam belas..."
SY: "ya, benar.." Aku merogoh kantong celana dan memberinya gope *pelit* "Mau uang lagi? Enam belas dibagi empat berapa? Kamu punya permen 16, dibagi untuk 4 orang. Satu orangnya dapet berapa permen?"
PK: "permennya berapa?" Dia meminta mengulang pertanyaan.
-__-"
SY: "Kamu punya permen 16, dibagi untuk 4 orang. Satu orangnya dapet berapa permen?"
Ku lihat dia tersenyum sebentar dan kembali merapal angka-angka. Di belakang si pengemis kecil, masih ada pengasong yang dari awal aku masuk dia duduk disana. Nampaknya dia tertarik dengan apa yang sedang aku lakukan dengan si anak ini. (AS=asongan)
AS: "jawab, tuh! Ntar dapet duit"
SY: "enggak, cuma nanya doang.."
Aku ngomong gitu, si anak tadi malah pergi. Jyaaah... kecil-kecil mata duitan ni anak. Dia kira kali ini saya nggak akan ngasih duit. Padahal saya tadi becanda sama si pengasong. Setelah ku lihat si pengemis kecil jalan ke belakang bus, ternyata dia balik lagi. -__- hmm... Mau duit juga kan lo?
PK: "permennya empat..." dia bilang tiba-tiba begitu nyamperin saya lagi.
Tapi karena saya kira dia tidak akan menjawab. Saya malah kurang merhatiin apa yang si PK tadi bilang. Dalam sekian detik saya langsung tersadar. Ooh, dia bilang tadi permennya 4 untuk setiap anak.
SY: "Oke, jawaban kamu benar..."
Saya kembali merogoh saku celana. Langsung kasih gope lagi buat si pengemis kecil.
*pelit amat ngasih gope mulu :p* :D
Alam punya banyak cerita. Indonesia punya banyak cerita di setiap jengkalnya. Jangan sampai dibilang 'kurang piknik'. Buat ceritamu!
Friday, 31 December 2010
Tuesday, 14 December 2010
JOGJA: FOR HUMANITY
Perjalanan Pertama dengan Misi Kemanusiaan
Sepertinya, setiap hal yang saya lakukan selalu menjadi hal yang pertama. Seperti halnya trip saya kali ini. Untuk pertama kalinya saya pergi ke suatu tempat karena panggilan hati yang ingin membantu sesama yang sedang dicoba dengan kemalangan. Ini juga perjalanan pertama saya berangkat dari Cirebon, kota kelahiran saya sendiri.
Sejak Jogja dan beberapa kota di Jawa Tengah tertimpa musibah karena gunung Merapi meletus, hati saya sudah tergerak ingin sekali bisa berpartisipasi dalam meringankan duka mereka. Hal yang saya pikirkan bisa membantu adalah menghibur anak-anak korban bencana dari traumatis pasca bencana yang mereka alami. Mereka kehilangan rumah, mungkin juga kehilangan orang tua dan saudara. Anak-anak juga tidak bisa bersekolah dan bermain layaknya yang semestinya terjadi dalam dunia anak.
Dan akhirnya kesempatan itupun datang. Ternyata Dia menjawab bisikan hati saya. Pucuk dicinta KIT pun tiba. Kaskus Indonesian Traveler (KIT) ingin mengadakan baksos untuk korban bencana gunung Merapi. Tanpa berpikir panjaaaaang dan lamaaaaaaaaa saya langsung menghubungi Shanti salah satu dedengkot KIT untuk menanyakan apakah saya bisa ikut berpartisipasi. Ternyata bisa! Hati saya bergemuruh layaknya gemuruh Merapi yang meresahkan para pengungsi. :D
Tapi ternyata niat baik memang selalu harus menghadapi ujian. Hati saya bergejolak layaknya lava panas yang disemburkan merapi. Haha… bahasanya biar nyambung sama merapi. Hati saya bimbang dan ragu walau tak pilu. Masalahnya saya sekarang sudah berada di rumah. Segala aktifitas saya terpantau sama mamah sama papah. Hahaha... gaya. Biasayanya juga manggilnya mimi sama bapak :
Iya, ini bulan-bulan pertama saya kembali menetap di rumah setelah 10 tahun diasingkan dari rumah Sejak lulus SD emang udah merantau jauh dari ortu. Dulu, kalo mau ke mana-mana tinggal berangkat aja. Orang tua tau setelah berbulan-bulan. Tapi sekarang...
“Udah, bohong aja sama ortu. Bilang aja mau legalisir ke Bandung buat nglamar kerja,” kata iblis merah sebelah kiri saya.
“Ingat, kamu ke sana mau ketemu sama Merapi yang lagi ganas-ganasnya. Gimana pas lagi di pengungsian trus kamu dihajar wedhus gembel? Ato lu penyakitan kebanyakan ngehirup abu vulkanik yang bisa mengoyak jaringan di paru-paru kamu, merusak mata kamu, trus kamu mati. Kamu mau mati sebagai anak durhaka yang bohongin ortu?” Itu kata malaikat putih sebelah kiri saya.
DIAM SEMUAAAAAA… Setelah ngliat kanan, ke white angel dan ke kiri, ke red devil, akhirnya saya ambil jalan tengah aja. Saya tetep akan menjalankan misi ini dengan alasan yang diusulin red devil. Tapi saya juga gak akan bohong, setelah dari Jogja, baru saya ke Bandung untuk legalisir ijazah. Hehe... Nanti setelah balik lagi ke rumah saya baru jujur habis maen sama WEDHUS GEMBEL. “Kalo ga balik gimna?” Buset! Siapa tu yang bicara sembarangan? Insa aloh saya balik dengan selamat!!!
Akhirnya dengan alasan itu, bulatlah tekad saya untuk berancuuut, setelah sebelumnya saya harus cencelin jadwal ngajar hari Sabtu. Hari Jumat balik ngajar jam 17.30 saya ngga pulang ke rumah. Langsung cari perlengkapan buat ke Jogja. Di rumah temen, saya nunggu malem. Soalnya kereta datang jam 00.30 di Stasium Kejaksan Cirebon. Kebetulan temen saya kalo malem mamahnya bangun buat bikin sate kentang. Jadi sekalian nemenin mamahnya temen bikin sate kentang.
Jam 22.00 saya pamit sama temen saya dan mamahnya. Mereka melepas kepergian saya udah kaya mau melepas ke medan pertempuran aja. Air mata darah keluar dari mata mereka sembari meraung-raung menangisi kepergian saya. Sory itu lebay dibikin-bikin. Hahaha.. Dari rumah temen ke jalan raya harus jalan kaki 10 menitan. Di malam yang sunyi sepi dan gelap saya harus melewati kuburan pulak! Tak apalah demi misi kemanusiaan, hatiku menegarkan. Sesampainya di jalan raya, ternyata jalanan begitu lengang. Hanya sedikit kendaraan yang melintas. Tapi saya yakin pasti ada angkot yang akan membawa saya ke stasiun. Ternyata setelah beberapa lama datanglah angkot. Thanks god, dalam hatiku. Tapi ternyata setelah saya masuk angkot, ALAMAAAAAK… BENCOOOONG. Di angkot itu gada siapa-siapa selain saya dan banci malam itu. Tuhaaaan cobaan apa lagi yang harus saya terima. TOLONGIN AIM YA OLOOOH… Dan ternyata banci itu ngga nakal, dia diem aja. Mungkin dikira temannya juga. THANKS, GOD!
Nyampe stasiun jam 11an malem. Tapi sebelum masuk stasiun saya harus beli pesenan Nasi Jamblang temen-temen dari Jakarta yang pada kelaperan di kereta. Mereka naik KA Progo dari St. Pasar Senen lewat jalur utara. Jadi, nanti mereka lewat St. Kejaksan Cirebon. Di sanalah kelak saya akan bertemu dengan mereka untuk pertama kali di dunia nyata. Karena selama ini saya hanya berkomunikasi dengan mereka melalui dunia halus. Maksudnya di dunia maya.
Sebut saja Om Harry Porter, namanya selalu muncul di grup Kaskus Indonesian Traveller. Atau dikenal juga dengan sebutan Suhu. Karena menjadi salah satu sesepuh forum traveler di kaskus (yang saya tahu). Dari seberang sana terdengar di henpon suara riuh temen-temen yang lain di kereta saat Shanti nelpon saya untuk memsan Nasi Jamblang.
Okay, sekarang saya udah di dalam stasiun. Kurang lebih 15 menit lagi seharusnya kereta dateng. Walaupun saya tahu dia tak akan datang tepat waktu. Pasti dia akan ingkar janji. Aku benci… benci… *sambil pukul-pukul manja bahu orang lewat* Bener dugaan saya, kereta tak datang tepat waktu. Tapi tetep aja saya dibuat jengkel olehnya. Abis telatnya tak main-main sampai satu jam lebih. Setelah saya hampir menyerah untuk hidup, barulah dia datang TEPAT jam 02.30an. Huff… inilah kenapa saya cinta hidup di negeri ini. Slooow but unsuuure…
Seperti yang sudah dibilang Shanti sebelumnya, mereka dapet duduk di gerbong paaaling belakang. Jadi tanpa aba-aba, saya langsung menuju ke sana. Sambil jalan ke pintu saya liat orang-orang di jendela, mana kira-kira makhluk-makhluk itu? Dan tiba-tiba dari jendela kereta muncul sosok yang belum pernah saya jumpai sebelumnya namun nampak tak asing bagi saya. Harry…. Harry Potter…. Iya, itu pasti dia. Liat kaca mata bulat itu. Kemudian sosok itu pun melihat ke arah saya, tak henti-hentinya mata itu memandang? Saya jadi curiga… jangan… jangan… dia adalaaah…
“Jamblang ya?” tiba-tiba dia berkata. Ooooooooh.. ternyata dari tadi dia ngga liat ke arah saya. Dia liat nasi jamblangnya. Hahaha…
Sampai di pintu saya belum bisa naik, kereta ternyata saaangat penuh. Para penumpang berhamburan keluar kereta seperti semut yang terusik. Mereka mengambil kesempatan untuk menghirup udara di luar setelah berlama-lama berada di dalam kereta yang panas dan pengap terisi oleh jumlah penumpang yang tak sesuai kapasitasnya. Akhirnya dengan susah payah saya bisa masuk ke dalam kereta. Bau manusia langsung tercium. Dahsyat sekali, manusia berada di mana-mana. Tak ada sejengkalpun yang kosong. Bahkan ada orang yang tidur di bawah kolong kursi. Hmm… Inilah kereta eksekutif Progo. Sampai di dalam saya langsung menawarkan dagangan, “sheee nasheeee jamblaaaang… yang makaaaan…. Jamblaaang kenyaaaang…!!!"
Setelah beberapa lama, kereta sedikit demi sedikit mulai meninggalkan Cirebon. Rasa haru menerpa saya. Tanpa terasa ada air yang mulai menetes tes.. tes… dari telinga. Wakakaka congeeeek!!!
Saya mulai berkenalan dengan beberapa rombongan dari Jakarta. Terasa canggung. Karena memang first meet dan jarang chit chat di dunia maya juga. Tapi tingkah laku mereka yang kocak, gokil, dan lucu nggak jelas membuat saya mulai membaur nice and slow. Sepaanjang perjalanan para relawan ini selalu becanda, bercengkrama, dan bersenda gurau. Semoga saja penumpang lain tak terusik dibuatnya. Huff, RELAWAN STRESS!!!
Stasiun demi stasiun mulai terlewati. Detik berganti menit dan menitpun berganti jam. Habis gelap terbitlah telang. Rajin pangkal pandai dan malas pangkal bodoh. Loh? Pribahasa yang terakhir nggak nyambung.
Setelah langit mulai cerah, nampak daun pepohonan berwarna putih tertutup abu vulkanik. Itu berarti Jogja semakin dekat. Kami langsung mengenakan masker untuk melindungi pernapasan. Sewaktu menunggu kereta, temen saya mengingatkan lewat sms, “sekilas info. Abu vulkanik komposisinya 20% silica, mirip bahan industry kaca dan merupakan glass hard yang sangat halus. Tetapi jika dilihat dengan microscope, ujungnya runcing. Jika terhirup akan merobek jaringan paru-paru. Jika terkena mata bisa merusak mata dan hidung kita. Sebarkan jika peduli”
Jam 08.00 pagi akhirnya sampai Jogja juga. Setelah seluruh penumpang lain turun, kami menurunkan barang bawaan untuk para pengungsi. Ada obat-obatan, pakaian dalam pria dan wanita, kebutuhan bulanan wanita, dll. Setelah keluar kereta, saya melihat sekitar. Ini beneran Jogja? Kok aman-aman aja? Gak seperti yang diberitakan media. Beneran ada bencana ga ni? Memang sebagian dari mereka juga menggunakan masker, yang nampaknya pengunjung seperti kita. Tapi sebagian yang lain nyantai-nyantai aja kayak gada apa-apa. Semua aktifitas berjalan normal.
Setelah semua relawan dan barang-barang kumpul, kita langsung menuju mobil yang kita sewa untuk aktifitas selama di Jogja. Karena jumlah relawan yang banyak, kita sewa dua mobil yang di supiri oleh Arif dan Tio yang selalu didampingi oleh Om Harry. Sepaaaanjang perjalanan mereka selalu mengumbar kemesraan. Rayuan Om Harry yang mesrah kepada Tio membuat Rama yang duduk di belakangnya uring-uringan.
Tujuan pertama kita di rumah salah satu temen, entah siapa saya tak kenal, untuk bersih-bersih dan istirahat sejenak. Tapi ternyata air di kosan temen ndak memadai untuk kita semua mandi. Akhirnya kita pindah lokasi ke temen yang lain, yang juga saya ndak kenal. Lokasinya di Jl. Sosrowijayan, deket dengan Malioboro. Sesampainya di sana kita langsung bergantian mandi karena kamar mandi cuma ada dua untuk 16 orang. Sebagian ada yang cari makan dulu karena tak bisa menahan rasa lapar yang melilit. Ada juga yang tak bisa menahan diri untuk berbelanja. Haha.. Relawan atau Wisatawan?
Setelah itu beberapa orang harus pergi belanja untuk membeli kebutuhan para pengungsi seperti makanan bayi, minyak, bawang, telor, dan lain-lain. Sementara sebagian yang lain ada yang kembali ke Stasiun untuk mengambil barang-barang yang dibawa oleh kereta kargo seperti baju-baju layak pakai, kasur, dll. Dan sisanya istirahat mengumpulkan tenaga untuk menuju ke tempat pengungsian.
Tujuan pertama kami untuk belanja adalah Pasar Bringharjo. Bisa ditempuh dengan bejalan kaki dari tempat kami menginap. Selain kita, di sana juga banyak relawan lain yang sedang belanja kebutuhan pengungsi. Sehingga barang-barang seperti selimut (yang murah), baju anak (yang murah) sudah habis terjual. Barang yang ingin kami beli tidak ditemukan di sana. Shinta dan Ami memutuskan untuk ke Carefour. Mereka hanya berdua saja dengan menaiki Trans Jogja. Selanjutnya barang-barang belanjaan mereka akan dijemput oleh mobil setelah dari stasiun. Untuk beras, kita dibantu oleh pemilik tempat kita nginep. Beras langsung dianter ke tempat kita. Oya, ada juga dua personel yang baru dateng. Tante Getha dan temannya. Mereka ke jogja pake trevel.
Setelah semua barang kebutuhan pengungsi terbeli, kita langsung berkemas untuk berangkat ke tempat pengungsian dengan terlebih dahulu ke tempat salah seorang rekan yang menjadi base camp relawan untuk para korban Merapi juga. Di sana kita bergabung, breafing, dan langsung berangkat ke lokasi sekitar pukul 16.00. Tujuan kita adalah Kabupaten Boyolali. Konon pengungsi di sana masih kurang tersentuh bantuan. Makannya kita pilih untuk mengirim bantuan kesana. Perjalan kami tempuh kurang lebih 4 jam.
Saturday, 8 May 2010
Backpacker ke Jogja Pertama Kali
![]() |
| Backpacker ke Jogja. Photo by Anya |
Kenapa ke Jogja dan kenapa dipengaruhi autisme? Langsung aja simak ceritanya.
Tepatnya tiga tahun yang lalu, taun 2007, ga tau kenapa tiba-tiba saya ngidam berangkat ke Jogja. Ini benar-benar perjalanan yang tak beralasan. Padahal waktu itu saya lagi aktif di organisasi kampus jadi ketua departemen kebudayaan dan lagi sibuk-sibuknya nyiapin event yang bentar lagi diadain, porsam kalo ga salah. Sampe temen-temen saya ngejudge saya stress. Haha.. Baru sadar aja mereka.. :p
Tapi setelah dipikir-pikir, kayaknya saat itulah soul of traveler saya mulai menyeruak dan menyembul. Karna saya mulai nglamun yang ngga ngga mikirin perjalanan. Haha...
Persiapan
Mulailah saya nyiapin segalanya. Mulai dari nyari kodok buduk, dikerok perutnya pake receh buat dapetin tanggal keberangkatan, nyari peta Jogja, sampe ngrencanain mau ngapain aja di Jogja. Untuk masalah bermalam, awalnya saya ngga terlalu masalain. Saya bisa tidur di mana aja, bisa di masjid ato di emperan toko. Haha.. Saya pikir saya cowok ini. Ngga terlalu takut jadi korban pelecehan kesewenang-wenangan para penjajah cinta. Tapi, ada temen kuliah saya yang nawarin buat tidur di tempat cowoknya. Kebetulan temen saya emang orang Jogja. Saya nanya juga ke dia, tempat apa aja yang harus saya kunjungi. Dia kasih list nya dan saya pilih ke mana aja. Saya langsung pilih yang berbau-bau candi, soalnya emang belum pernah sama sekali, sama Malioboro dan pantai. Kalo keraton-keraton gitu ngga terlalu interes soalnya Cirebon punya stok juga.
Okay, udah dapet tanggal dari kodok buduk. Akomodasi dan tujuan wisata juga udah. Tinggal mikirin gimana caranya bisa nyampe ke sana dan nyambangin tempat wisata pilihan saya. Saat itulah mang google jadi sahabat terdekat saya. Saya nyari peta Jogja dengan spot wisatanya sama nyari transportasi selama di sana juga. Dan ternyata saya dipertemukan dengan peta trayek TransJogja.
Saya mulai merancang perjalanan. Bandung-Jogja-ke Borobudur-Prambanan-Malioboro. Dilanjutkan ke Parangtritis dan lokasi lain kalo memungkinkan sebelum balik lagi ke Bandung.
Done! Semua persiapan beres!
Show time! Jogja, here I come!
Sampailah di hari yang dipilih kodok buduk. Dengan bermodalkan peta TransJogja dan sedikit tekad dan banyak nekat, saya berangkat dari kosan habis Asar. Oya, orang kosan gak ada yang tau saya mau kemana karena tas saya masukin ke kresek dan saya mengendap-endap keluar. Tapi pas di gerbang kosan ternyata ada ibu kos. Trus dia nanya mau ke mana. Yaudah, saya bilang aja mau main (main ke Jogja). Termasuk orang tua saya ngga tau saya berangkat ke Jogja. Sampe sekarang rahasia itu terjaga. Ssst...
Sampai di Stasiun Kiaracondong magriban. Gak lama kemudian saya udah ngantri buat beli tiket dan langsung masuk ke peron, nungguin kereta yang menurut tiket berangkat jam 8 malam. Jujur waktu itu perasaan saya berkecamuk banget. Excited (karena akhirnya jadi ke Jogja), was-was (karna ini kali pertama), bercampur takut (karna saya hanya anak polos yang lugu dan menggemaskan seorang diri). Campuran semua itu adalah perasaan dag dig dug geli-geli nikmat.
Sambil nunggu kereta, saya perhatiin para calon penumpang lain yang semakin tumpah ruah. Dan sempet ngobrol sama beberapa orang. Ternyata ada yang ke Jawa mau ngawinin anaknya, pulang kampung, kerja, ada juga yang ngejer pesawat di Adi Sucipto. Hmm... macem-macem.
Kereta yang ku tunggu ku tunggu... akhirnya datang juga. Saya yang datang lebih awal beruntung bisa dapet tiket tempat duduk. Jadi langsung nyari gerbong dan tempat duduk. Dan penumpang yang ngga beruntung, mereka berebut menempati ruangan sempit antara WC-pintu masuk-sambungan gerbong. Karena di situlah yang agak luas jadi masih bisa duduk-duduk lesehan pake koran sambil sesekali dilanglahin sama para pedangang asongan yang nawarin dagangannya NASEEE... MAKAAAN... ato TEEEENG... LANTEEENG... ato CEEEL PECEEEELLLL...
Di dalam kereta, ngga banyak yang bisa dilakukan selain duduk dan berharap bisa tidur selama perjalanan 9,5 jam. Soalnya selain suara para penjajah makanan yang sesekali membuyarkan konsentrasi tidur, kondisi gerbong tengah malam ternyata benar-benar panas meski malam hari. Huffhh...
Stasiun demi stasiun terlewati dengan lambatnya. Karna nasib kereta ekonomi memang selalu mengalah. Ngga jarang kereta berhenti di tengah antah berantah yang gulita cuma nunggu kereta eksekutip lewat, baru bisa lanjot. Sib nasib.. Tapi akhirnya nyampe juga. Beberapa kilo sebelum sampe, bau Jogja sudah menusuk-nusuk hidung. Barulah saya merasa kereta dingin segar dan menyenangkan.
TUUUUTTT..... Yipppy! Saya nyampe stasiun Lempuyangan.
Ke Candi Borobudur dengan transportasi umum. Hajar!
Nyampe Jogja sekitar jam setengah eneman. Setelah bebenah diri di toilet stasiun dan stor muka ke mushola. Saya langsung mencari halte TransJogja. Saya nanya petugas stasiun tapi gak ada yang tau. Yaudah akhirnya saya nyari sarapan aja dulu sekalian nanya sama penjualnya letak halte. Padahal kalo saya liat di peta itu ga jauh dari Lempuyangan, tepat di sebelah Kridosono. Setelah menyantap beberapa bungkus nasi dan gorengan, saya nanya ke ibu penjual. Dan beliau nyuruh saya jalan aja muter ke belakang stasiun, nanti ketemu stadiun Kridosono dan di sanalah halte berada.
Jalan dan keadaan lalu lintas menuju halte menyadarkan saya. Ternyata lalu lintas di Bandung sangat parah dibandingkan disini. Jika biasanya saya ngliat kemacetan pagi-pagi di Bandung, di sini begitu lancar terlihat. Udarapun terasa lebih segar, padahal Bandung berada di dataran yang lebih tinggi.
Beberapa saat kemudian saya udah merasakan dinginnya AC bis 2A dan langsung meluncur ke terminal Jombor. Dari sana saya naik bus yang langsung mengantarkan saya ke Borobudur. Saya jalan dari terminal ke Borobudur lumayan jauh. Tetapi kaki seakan melangkah ringan, karena ngga sabar lagi ziarah ke temple ini.
Tiba saatnya saya membeli tiket masuk. Seorang diri saya memasuki sebuah gedung. Untuk tempat penjualan tiket di wisata di Indonesia ini mungkin termasuk mewah. Hebat lah saya pikir. Saya langsung menghampiri mba-mba di loker dan minta tiket satu. Tapi si mba nya nanyain paspor? lho? paspor?? Heh? Ternyata saya salah masuk, ini buat para bule ternyata. Pantesan alus kieu... hahaha... Saya keluar dan barulah menemukan tiket box yang biasa saya liat di tempat-tempat wisata Indonesia. SEDERHANA.. Ngga kaya yang tadi. Saya ikut antrian, dan tiba giliran saya beli tiket.
Tapi, kok si mas-masnya mandengin saya dengan wajah penuh curiga. Dan tiba-tiba dia nanya ke saya pake Bahasa Indonesia dengan nada seperti ngetes. Saya jawablah dengan lancar. Udah gitu dia minta liat KTP saya lagi. Aneh.. tapi akhirnya saya dapet tiket juga. Pas nengok kebelakang, barulah saya sadar kenapa si mas tiketing memperlakukan saya demikian. Ternyata di belakang saya ada rombongan yang sepertinya orang Cina. Karena selain bermuka oriental, mereka juga ngomong pake bahasa Mandarin. Pantesan.... -___-
Sebelum saya masuk, ada bapak-bapak yang nawarin jasa guide, murah katanya. Ngga deh, saya kan udah tau Borobudur dari jaman SD. Ini pengen liat aslinya aja :P.
Sejurus kemudian saya udah ternganga dari kejauhan. Untuk pertama kalinya melihat salah satu dari keajaiban dunia ini. Luar biasa nih orang jaman dulu. Kakiku melayang menghampiri mahakarya Syailendra itu. hahaha... Beberapa saat kemudian saya udah menikmati setiap jengkal relief dan kekokohan bangunan candi. Saya mulai towaf dari bawah sampe ke puncak candi. Disana sudah banyak wisatawan baik asing ataupun lokal. Ada yang nyooba meraih patung budha berharap cepet kawin, ada yang poto-poto. Bule terlihat laris manis di sana. Wistawan lokal kayaknya bukan ngunjungin candi nih, tapi bule. Ada juga yang duduk santai menikmati panorama candi dan pemandangan pegunungan sekitar candi.
Setelah merasa puas dan lelah melilit. Saya turun dan menghampiri beberapa penjual oleh-oleh. Setelah itu kembali melanjutkan perjalanan.
Candi Prambanan I am in love..
Perjalana selanjutnya, Candi Prambanan. Dengan rute perjalanan sama, saya sampai Jombor. Dari Jombor saya naik Transjogja. Setelah transit dan ganti bus beberapa kali akhirnya saya sampai juga di Candi Prambanan.
Prambanan ngga kalah spektakuler sama Borobudur. Candi Hindu terlihat lebih keren dengan detil-detil stupanya. Sayang, waktu itu saya ngga bisa masuk candi soalnya lagi ada renovasi akibat gempa Bantul taun 2006. Tapi saya cukup puas dan lelah mengelilingi komplek Candi yang sangat luas. Malah saya ngga nyampe candi sewu, tepar duluan. Haha.. iyalah semaleman di kereta ngga enak tidur. :p
Keluar dari Prambanan, saya berjalan menuju halte transjakarta. Tiba-tiba saya dibuat bingung oleh tukang ojek, "sir! going to terminal?" Saya bingung harus jawab apa. Bukannya saya tidak ngerti maksudnya. Setelah sejenak tertegun, akhirnya saya mengerti. Ternyata bapak ini mengira saya turis asing. "Owalah... kula saking Cerbon, pak!"
Korban gempa Bantul
Hari sudah semakin sore, awalnya saya pengen langsung ke Malioboro aja. Kayaknya seru kalo sore hari di sana. Tapi cowok temen saya udah nanyain mau ke dia jam berapa. Waktu itu saya belum tau kalo di Sosrowijayan juga banyak tempat mantap buat berteduh. Tapi yaudah, akhirnya saya berputar haluan ke rumah cowok temen saya. Kita ketemu di salah satu halte Transjogja. Dan dia jemput saya di sana pake motor.
Ternyata rumah dia salah satu yang parah terkena gempa Bantul. Walaupun udah direnovasi masih terlihat retakan-retakan sisa gempa. Sepanjang perjalanan juga banyak rumah-rumah setengah jadi. Kayaknya itu rumah yang ambruk total. Kalo ngga salah, tiap rumah dapet 15jt buat renovasi. Sampai rumah, ada ibu dia lagi masak gudheg. Wahh, mantab, nih. Ibunya jualan gudheg kalo pagi.
Saking capeknya, habis magrib saya langsung njengking. Ngga sadar apa-apa, tau-tau udah pagi. Penghuni rumah udah pada siap-siap nyari penghidupan, malah si ibu katanya udah berangkat bawa gudhek nya. Saya katanya bakalan dianter bapak dia ke alun-alun. Soalnya si bapak kerja lewat situ. Dari sana saya bisa ke keraton ato langsung ke Malioboro.
Mandi dulu ceritanya. kenapa diceritain? soalnya saya mandi di tempat terbuka. Ato lebih tepatnya setengah terbuka di rumah korban gempa. Emang sih, ini rumah gada yang nungguin. Jalan di luar rumah juga kayaknya sepi. Tapi tetep aja ada sensasi beda mandi di kamer mandi yang setengah tembok bagian atas hancur, tak beratap dan tak berpintu. hahaha... Cobain, deh. Maknyusss...
Malioboro, yo!
Siap berangkat, si bapak udah nungguin di luar. Setelah saya berpamitan sama cowok temen saya, meluncurlah kita menuju alun-alun.
Sampai alun-alun pagi-pagi buta. Mau ke keraton masih tutup, ke Malioboro kepagian. Jadi, saya nongkrong aja dulu di sana ngliatin anak-anak SD yang lagi pada olah raga sama gurunya. Menikmati pemandangan Jogja yang khas di pagi hari punya rasa yang lain.
Siangan saya jalan ke Malioboro. Udah lumayan rame, pedagang udah pada buka lapaknya. Saya mulai shoping window ngliat-liat batik dan aneka kerajinan masyarakat Jogja yang beraneka ragam, unik-unik dan menarik. Saya berjalan dari ujung satu ke ujung yang lainnya. Sesekali masuk ke kios ato toko batik yang isinya lebih bagus dari yang di luaran karena harganya juga lebih bagus. :p
See you again, Jogja!
Puas keliling malioboro dan udah dapet beberapa barang untuk buah tangan, saya langsung cabut. Soalnya kereta ke Bandung berangkat tengah hari. Jadi saya langsung nyamperin halte dan meluncur ke Lempuyangan.
Huff... gak kerasa udah 2 hari 1 malam saya di Jogja. Saatnya kembali ke Bandung dan back to reality. Kali ini saya ngga dapet tiket duduk :(
Tengah hari kereta datang dengan kondisi yang udah penuh bejibun. Calon penumpang yang baru uda pasti ngga dapet duduk, termasuk saya. Akhirnya saya merasakan juga apa yang dirasakan orang-orang di kereta pas berangkat. Emang, sih. Ngga enak. Tapi sensasinya luarrrr binasa...
Capek... letih... dan lemas... itu yang kurasakan sepanjang jalan. Tapi saya puas. Dahaga batin saya terobati. Akhirnya saya bisa melakukan perjalana yang sangat luarr biasa ini...
Dalam hati uda ngrencanain, "kemana ya perjalanan selanjutnya?" :)
Simak juga kisah kunjungan saya ke Jogja bersama teman-teman kaskuser ketika memberikan bantuan untuk korban letusan gunung Merapi di sini
Subscribe to:
Posts (Atom)
