Saturday, 10 April 2010

Wisata Banjir Kota Jakarta

Transit Di Rumah Aconk

Menjelang tengah malam, kami sampai di Kp. Rambutan. Laskar Ganas langsung berjejer menempati trotoar. Kami menunggu kabar jemputan dari Aconk. Aconk adalah salah satu rombongan kloter 1 dari Jakarta yang kebetulan rumahnya ngga jauh dari terminal. Sambil nunggu Aconk, ngga lupa kita lakukan ritual popotoan.

Okeh, Saya coba telpon nomer Aconk dulu. Lah, ternyata nomernya ngga aktif. Mungkin dia udah tidur. Kita sebelumnya memang konfirmasi ke Acongnya jam 1 pagi. Tapi ternyata busnya cepet. Jadilah kita terdampar lumayan lama di Kp. Rambutan. Untungnya Iput dapet nomer CDMA Acong dari kumpulan kontak anak-anak yang ikutan ke P Seribu di Kaskus. Geri langsung menguhubungi Acong. Nyambung! Legalah kita!

Tapi ekspresi muka Geri kok malah bingung? Ada apa dengan Acong? Jangan-jangan dia ngga mau nampung kita. Ngga lama kemudian Geri ngasih telponnya ke saya. Pertama kalinya saya denger suara Acong, dia bilang, “rumah gw banjir!” Gubrak!!
“Trus Gimana Conk?”

Ternyata banjirnya ngga sampe masuk rumah Aconk. Cuma jalan yang menuju rumahnya tergenang air sebatas lutut orang dewasa. Sebelum konfirmasi kita jadi kesana ato ngga, saya minta kesepakatan dulu ke yang lain, mau sampe jam 3 kemping dipinggir jalan, atau mau nerjang banjir buat singgah ke rumah Aconk.

Akhirnya, daripada kita ngga jelas disini, serempak anak-anak menyingsingkan celana dan mengganti sandal bagi yang pake sepatu. “Itung-itung latian di sana!,” salah satu temen nyeltuk. “Horee… kita bisa merasakan banjir Jakarta!,” tambah yang lain. Sekalian aja pemanasan snorkeling!

Wisata banjir Jakarta 
Setelah semua siap, kita berangkat. Sesuai instruksi Aconk, kita harus lewat jembatan penyebrangan dulu, barulah kita bisa bertemu dengan dia di seberang sana. Dan demi bertemu sang Aconk, kita semua rela menaiki jembatan yang medannya becek dan licin. Lagi-lagi ada yang nyletuk “pemanasan buat di sana…” Emang di sana kita mau hiking apa?

Dan betul saja, setelah semua sampai di sebrang jalan, tampaklah pria tambun yang sedang bertengger di motornya. Setelah berkenalan dan berbasa-basi dikit, Aconk langsung memandu kita menuju rumahnya.

Di tengah perjalanan ada tulisan yang menggoda Laskar Ganas untuk mengelurakan kameranya. 'KERAJAAN SAUDI ARABIA' "Poto.. poto..!" Potolah semuanya disana. Aconk yang anak setempat nyengir prihatin melihat tingkah laku teman barunya, "Untung malem.."

Awalnya kita mengira ini keduataan besar AS, ternyata bukan. Itu kayak semacam institusi pendidikan. Kitanya aja yang ngga awas, liat tulisan di atasnya aja ngga sampe tuntas ke bawah.

Lama kami berjalan. Belok kanan kiri, masuk gang, keluar gang, tapi banjir tak kunjung datang. "Mana banjirnya Cong?" Berkali-kali ada yang nanyain banjir ke Aconk. Dan parahnya lagi, sepanjang perjalanan kita ketawa ketiwi becandaan. Nga nyadar lagi di kampung orang di tengah malam yang bisa memungkinkan menggangu istirahat mereka. Bisa diusir kita dari kampung rambutan! Balik lagi ke Bandung, gajadi dong ke P Seribu. hahaha...

Setelah jalan lumayan jauh, ketemu juga banjirnya. Wajah-wajah sumringah yang dari tadi menantikan banjir langsung menceburkan diri. Plung! Pastinya kita ngga bakalan lewatin kesempatan ini, ritual popotoan pun tak terhindarkan. Kita menyebutnya BERWISATA BANJIR DI JAKARTA hahaha...

Sampailah di rumah Acong. Aktifitas kita pertama, ngantri kamer mandi untuk buang air ato sekedar cuci kaki. Trus barulah nyantai-nyantai, ngobrol-ngobrol, rebahan di lantai. Ada kasur juga, tapi langsung di kuasai Bimbim yang langsung nyuri start untuk tidur. Anggi yang bawa bekel nasi dikeluarin. Epul juga keluarin makanan-makanannya. Eda sama Ambar karna merasa lapar dan ngga bawa bekel dia masak mie goreng. Setelah semua makanan kumpul, makanlah kita bersama. Semenetara Acong dengan keahliannya beraksi layaknya bartender, nyedian minuman buat tamunya.

Setelah perut kenyang dan kondisi badan yang lumayan letih, apalagi yang dilakukan selain ngglosor. Secara naluriah satu persatu langsung mencari posisi buat bersarang. Dan semuanya tertidur, kecuali Iput, Geri, Aconk, dan saya. Kita ngobrol-ngobrol lagi ngomongin rombongan kloter 2 yang update di kaskus. Bang TS yang dari sore terus menanyakan kabar kita via sms ke Iput

Kita juga ngobrolin perlengkapan buat kemping karena ada yang belum lengkap; beras , norit penunda pup -di pulau semak daun tempat kita kemping belum berpenghuni, cuma ada penjaga pulau, jadi agak repot kalo harus keluarin telor kita- kartu remi , dan kebetulan si Geri juga butuh ke ATM.

Aconk yang orang sana tau dimana bisa ngedapetin semua itu. Dengan kendaraan pribadinya Acong dan Geri meluncur keluar menerjang udara malam Jakarta. Tinggalah saya dan Iput berdua yang masih terjaga.

Ngga semua barang mereka dapetin. Tapi mereka dapet kue cuhcur. Kami samber bersama-sama si cuhcur.

Waktu udah menunjukkan pukul 3 pagi. Tapi anak-anak yang lain masih pada terlelap. Walau kasihan melihat mereka masih terlihat pulas, tapi apa boleh buat kita bangunkan mereka. Perjalanan kita masih panjang, guys.

Setelah semua berkemas. Kita melanjutkan perjalanan. Banjir sekarang telah surut, menyisakan aspal yang dingin.

Bus Malam Bandung-Jakarta dan Cerita Horor di Tol Cipularang

Kami telah memilih bus malam yang akan kami ambil dari Bandung ke Jakarta. Kami putuskan untuk berangkat dari Cileunyi. Ada dua pilihan keberangkatan bus Bandung-Jakarta seperti yang saya ceritakan dalam postingan sebelumnya Trip Kepulauan Seribu.

Satu per satu teman yang kami tunggu berdatangan di Cileunyi. Mula-mula Epul datang karena lokasi dia memang deket dengan Cileunyi, Cicalengka. Pas Epul datang, ritual traveler dimulai, kami ambil-ambil gambar bersama. Terlalu dini memang, tapi apa boleh buat hasrat kami yang udah menggebu-gebu.

Beberapa saat kemudian Geri ngasih kabar bahwa dia udah nyampe di Cileunyi, deket bus yang saya perintahkan dia tunggu di sana. Padahal kita berlima belum mau kesana karna pasti akan dirariweuh sama calo-calo dan kondektur. Kami langsung menyusulnya karna tak tega membiarkan bocah ini sendiri di tempat seperti itu dengan keadaan jiwa Geri yang masih traumatis terhadap suasana ramai seperti di pasar dan terminal.

Betul saja, begitu sampai di tempat para penumpang menunggu bus kami langusng diserbu sekawanan calo-calo. Gila! Naluri pemburu mereka begitu tajam! Bagaikan selebritis, kami dikerumuni paparazi yang ingin mengekspose setiap gerak gerik langkah kami. Karna kami masih menunggu satu rombongan lagi, kami tak menggubris setiap tawaran mereka yang menggoda. Bae malah bilang, "ga bang! Lagi nunggu jemputan." Set dah Bae, jemputan apaan, ambulan? *nauzubillah*

Setelah menunggu rombongan Iput yang lamaaa... Iyalah lama banget. Kita isi waktu dari mulai perkenalan Geri ke temen-temen, ke toilet, jajan, ke toilet lagi, jajan lagi, nyari gas buat kemping, sampe udah tawar menawar dulu sama kondektur bus Karunia Bakti. Kemudian akhirnya mereka menampakkan diri.

Setelah secara singkat kami berkenalan, kami langsung naik bus Karunia Bakti jurusan Tasik-Jakarta yang dari tadi dengan setia menunggu. Setelah semua bawaan dimasukin ke bagasi, giliran orangnya yang masuk. Kondisi bus waktu itu lumayan rame, tapi kita masih bisa dapet duduk berpasangan. Kecuali Epul yang terpaksa nyempil sendiri agak belakang. Saya satu baris sama Geri di jok yang bertiga (satu lagi diisi orang). Di samping baris kita ada Iput dan Bimbim. Diana, Anggi, dan Bae duduk bertiga di depan. Sisanya Edadan Ambar duduk berdua.

Layaknya bis ekonomi yang lain, hiburan rakyat pun dimulai saat bis mulai memasuki tol. Dan kami masih menyesuaikan diri, belum bisa macem-macem. Di gerbang tol selanjutnya banyak orang yang turun, sehingga bis udah mulai kosong. Epul gabung dengan Eda dan Ambar, dan orang yang disamping Geri hengkang. Penumpang yang lain juga tampak duduk santai karena ga semua jok terisi. Setelah kondektur menagih ongkos dan keadaan mulai stabil, mulailah kisah penumpang bus umum yang tak tahu diri.
Trip Kepulauan Seribu full team














Cerita horor di Tol Cipularang
Iput, Geri, dan saya memulai pembicaraan dengan topik yang berganti-ganti. Mulai dari kabar keberangkatan temen-temen kaskuser yang lain, pengalaman-pengalaman traveling masing-masing, Geri yang sering autis melakukan perjalanan seorang diri dan Iput anak PA dengan segudang pengalamannya dalam pendakian di beberapa gunung, sampai tibalah cerita-cerita misteri yang mulai menggelitik lidah Iput untuk menceritakannya.

Cerita misteri Iput sebenernya dipicu oleh lokasi bus pada saat itu, yakni di kilometer 68-72 yang konon seringkali terjadi kejadian-kejadian yang ganjil. Tapi setelah kita minta cerita selengkapnya, Iput malah bilang, "tar aja jangan di sini banget ceritanya. Agak kesonon dikit. -_-"

Sambil menunggu kita melewati kilometer itu, bukannya Iput cerita yang lain dulu, Iput malah cerita misteri juga! Gubrak!! Dia cerita tentang pengalamannya mendaki Jaya Giri yang hampir disesatkan oleh makhluk halus sana. Tapi berkat kejantanan si Iput, si makhluk halus itu gagal memperdayanya.

Setelah kilometer 68-72 lewat, barulah Iput berani buka mulut. Ati-ati kalo mau jalan malem di Cipularang, terutama setelah waduk Jatiluhur ke arah Bandung. Pernah ada mobil misterius ngedim-ngedim. Waktu itu yang kejadian mau bailk ke Jakarta lewat Cipularang malem hari. Saat itu mobil di jalur kanan, tiba-tiba dari belakang ada mobil ngedim-ngedim. Abis itu si mobil minggir ke kiri ngasih jalan. Eh, itu mobil yang di belakang ikutan ke kiri juga sambil tetep ngedim-ngedim.

Karena kesel si sopir tancap gas. Eh, dia ikut-ikutan kenceng juga. Tetep dia masih ngedim-ngedim juga. Karena kesel didim mulu, si sopir ngintip dari spion tengah, itu mobil apa sih. Tapi setelah ngintip spion tengah dan sang sopir langsung liat jalan di depan, tiba-tiba udah ada buntut truk tinggal beberapa meter lagi. Si sopir sontak kaget dan langsung injek rem. Untung mobil gak ngguling. Abis ngerem si sopir intip lagi spion tengah, tapi mobil tadi udah nggak ada. Si sopir salip truk ternyata kendaran yang ada cuman mobil dia sama truk tadi aja. Depan gelap nggak ada mobil sama sekali. Serem abis, si sopir langsung merinding disko.

Cerita itu belum terlalu membuat saya dan Geri berkutik. Kemudian dengan wajah penuh misteri , Iput melanjutkan cerita. Masih tentang misteri tol Cipularang kilometer 68-72.

Pada suatu hari ada sekeluarga pergi ke Bandung. Keluarga tersebut terdiri dari ayah, ibu dan satu orang anak yg masih berumur 8 tahunan. Mereka berangkat dari Jakarta sekitar jam 9 an, malam Sabtu. Diperjalanan tiba-tiba anaknya kebelet kencing sampe aduh-aduhan.

Bapaknya bilang, "udah nanti aja pas di pintu tol, di sini gelaap!"

Tapi karena anaknya ngga kuat, berhentilah mereka. Lalu turunlah anak itu, sambil ibunya bilang, "jangan jauh-jauh ya nak.." "Iya..," kata si anak.

Tapi kedua orang tuanya merasa kok anak ini semakin jauh dan menjauh jalannya. "Hei.., jangan jauh-jauh.., di depan mobil aja!" kata si ibu. "Iya mah..," anaknya bilang lagi.

Lalu tak lama kemudian anak itu balik ke mobilnya dan duduk d belakang, sambil ayahnya bilang, "kamu nih gimana sih, kencing kok jauh-jauh amat!"
"Malu pah, diliat orang," jawab anaknya.

Setelah mereka sampai di Bandung, orang tuanya melakukan aktifitas biasa selama dua hari hingga hari minggu. Belanja, makan, mandi, tidur, dll. Pokoknya liburan lah. Tapi disela-sela liburan mereka, orangtuanya kayak melihat ada kejanggalan sama anaknya. Yang biasa anaknya ingin berenang di hotel, ini enggak. Dan anaknya terlihat murung, pucat, dan berubah jadi diem, tidak seperti biasanya.

"Kamu sakit..??" tanya si ibu. Tapi, anaknya dieeemm aja...

Akhirnya ayahnya memutuskan untuk pulang ke Jakarta hari Minggu. Rencana sebelumnya hari Senen. Hari Minggu dalam perjalanan pulang sekitar jam 10 an, kembali si anak kebelet kencing sampe aduh-aduhan.

"Aduh pah..kencing..., papah kenciiing..," kata si anak.

Akhirnya mereka berhentilah kembali. Anehnya mereka berhenti di KM yg sama seperti anaknya kencing sebelumnya. Hanya saja di jalur yg berbeda. Tetapi kali ini si anak tak kunjung kembali ke mobil. Bingunglah orang tuanya.

Karena terlalu lama nunggu dan nyari, mereka melapor ke petugas melalui nomer telepon pengaduan tol. Dalam percakapannya di telpon, petugas mengatakan ciri-ciri si anak yang ternyata persis seperti anak yang hilang tersebut. Orangtuanya kaget. Bagaimana bisa petugas tersebut tahu ciri-ciri anaknya. Petugas tersebut meminta kedua orangtua datang ke pos.

Akhirnya kedua orangtua tersebut langsung menuju pos sambil terheran-heran kenapa anaknya bisa ada disana?

Sesampainya di pos, ibunya langsung memeluk erat anaknya, dan memarahinya, "amu kemana sih! kok tiba-tiba disini?" hardik ibunya.

"Loh..! mamah yang kemana aja, aku ditinggalin. Aku teriak-teriak mamah gak denger..!" kata anaknya sambil nangis.

Dan tebak apa yang terjadi? Petugas polisi berkata, "bu jangan dimarahin. Anak ibu sudah di kantor kami selama dua hari sejak hari Jumat malam. Jrengg!!

Seketika ibu dan ayahnya duduk lemas dan saling memandang.

Ternyata pada waktu anaknya kencing dalam perjalanan ke Bandung, dia hanya kencing di samping kiri mobil, di balik pintu belakang. Tetapi ibu dan ayahnya melihat dia berjalan di depan mobil dan menjauh. Setelah sosok yang terlihat seperti anaknya kembali masuk ke dalam mobil, anak yang masih kencing ditinggal begitu saja. Sampai anaknya teriak-teriak, tetep mereka nggga denger.

Pertanyaannya, lalu siapa anak yang ikut ke Bandung dan berlibur bersama???

Setelah Iput selesai cerita, kita masih menahan ketawa karna saya dan geri teriak pas tau ternyata yang ikut ke Bandung bukan si anak tadi. Dan teriakan kita lumayan keras. Padahal kita udah nebak ceritanya bakalan kayak gitu. Tapi tetep aja endingnya bikin merinding-merinding disko!

(Iput dapet cerita ini dari Kaskus. Saya ceritain di sini sambil ngliat versi aslinya di Kaskus. Soalnya lupa-lupa inget :D)

Dan ternyata sepanjang Iput cerita horror tadi, penumpang yang lain juga ikut dengerin, karna suara iput lumayan keras dengan posisi duduk yang ngga lurus ke depan, tapi miring menghadap kita di sampingnya. Ditambah suasana bus yang memang sepi. Dan pas kita berdua teriak, ternyata yang lain pun ikut kaget sampe ada yang loncat dari kursi penumpang.

Ternyata selama itu penumpang yang lain ikut tercekem. Malah mereka lebih parah, tercekam sendirian di tempat duduk masing-masing dalam bus malam yang remang-remang dengan kanan kiri bukit-bukit gelap.

Ngga terasa kita udah nyampe Jakarta. Perjalanan Bandung-Jakarta yang begitu singkat. Setelah sampai di Kp. Rambutan dan semuanya turun, Diana berkomentar, “Dasar, kalian tadi ngobrol keras banget! Teriak-teriak lagi. Kayak mobil bus sendiri aja. Saya sampe bangun tau pas kalian teriak.” Hahaha

Kita baru sadar, ternyata selama di bus kita udah mengganggu kenyamanan para penumpang dengan aksi kita… Hahaha

Drama Perjalanan Ke Pulau Seribu


Menjahit di Tengah Hiruk Pikuk Bandung


Selain drama keberangkatan di Bandung yang sudah saya ceritakan sebelumnya di awal perjalanan Trip Kepulauan Seribu, drama kisah di bawah ini bisa menjadi pelajaran bagi teman-teman ketika bepergian dengan cara backpacker. Terutama bagi teman-teman yang melakukan backpacking pertama kali. Keep simple tapi well prepared! Silahkan disimak. :)

Salah satu rombongan saya, Anggi. Doi ini udah terkenal banget dengan keriweuhannya kalo mau melakukan sesuatu atau mau kemana-mana. Terbukti bawaan dia super duper berat dan besar. Belum ditambah tentengan plastik yang nambah beban hidupnya. Tapi sebenernya itu semua nggga jadi masalah kalo carrier yang dia bawa seokeh punya saya. Hahaha.. Berhubung carrier yang Anggi bawa keadaannya sungguh kritis dan mencemaskan, ditambah adanya sebuah dogma yang mengatakan, "apa yang kamu takutkan, itu biasanya akan terjadi." Serta diperkuat dengan hukum newton II aksi-reaksi. Maka, terjadilah musibah itu. Carrier Anggi ga kuat menahan beban sebesar itu dan sobeklah gendongannya.

Dengan wajah memelasnya Anggi merintih, "Elung, kumaha? Tas Anggi Jebol!" Dan bukannya malah berduka kita bertiga malah tertawa puas menyaksikan penderitaan saudaranya sendiri. Sableng!

Tanpa terpikirkan oleh kita, di dalam angkot perjalanan ke Cileunyi, Anggi menawarkan solusi untuk permasalahannya, "Ada yang jual jarum ga ya di Cileunyi?" Krik.. krik.. krik..
"Yaudah gi, coba aja ntar disana cari"

Satu lagi temen saya, Bae. Temen saya yang satu ini bisa di bilang subur. Dan ngga kalah preparenya sama Anggi untuk perjalanan kali ini. Dia ga mau kebelet pup dalam perjalanan. Jadi, sebelum berangkat dia minum dulu produk pelangsing bermerek Langxing. Berharap setelah dia minum itu langsung terkuras semua isi dalam perutnya dan amanlah dia. Tapi segala sesuatu memang membutuhkan perhitungan yang matang. Setelah minum itu dia langsung menuju toilet. Sampai setengah jam hasilnya nihil. Dengan kecewa dan bersungut-sungut dia keluar.

Setelah di dalam angkot minuman semi pencahar itupun bereaksi dan dia mengeluh, "Lung, aku mules!" -___-"

Setelah sampai di Cileunyi, tanpa menunggu perintah Bae langsung mencari WC umum dan Anggi langsung meluncur dengan sendirinya menelusuri jalanan Cileunyi mencari toko yang mau menjual jarum jahit dan benang di malam hari. Ada sebagian daerah yang mempunyai adat untuk tidak menjual jarum di malam hari. Pamali!

Dalam kebisingan hilr mudik kendaraan terdengar seseorang berteriak "Jang, ongkosnya mana?" Gubrak!! Saya langsung lari ke mamang sopir angkot dan memberikan ongkosnya dengan muka merah berseri dan nyengir-nyengir malu ngga jelas. Untung saja pak sopir dan penumpang udah pada tuwir dan ramah-ramah.

Lamaaa... sekali saya dan Diana menunggu Anggi dan Bae menuntaskan masalahnya. Sambil menunggu mereka kami berdua menghubungi temen lain yang janjian ketemu di Cileunyi.

Bae datang dengan wajahnya yang keliatan lega dengan senyum geli geli puas! Disusul dengan Anggi yang langsung ketawa, "saya udah nyari jarum ga dapet-dapet. Beratus-ratus toko saya tanyain. Eh... malah dapetnya dari tukang jaga WC umum."

Jadi gini ceritanya. Setelah Anggi hampir putus asa nyari jarum ga dapet-dapet, seseorang ngasih petunjuk bahwa di sebelah WC umum ada tukang jahit. Anggi langsung mengecek kebenarannya. Dia bertanya ke penjaga WC umum perihal tukang jahit yang berada di sekitar situ. Tukang WC bilang udah tutup penjahitnya kalo jam segituan. Tapi sang tukang WC nanya, "emang mau apa?" Anggi pun langsung menjelaskan nasib yang menimpanya.

Keberuntungan masih berpihak padanya. Sang penjaga WC dengan tulus hati menawarkan jarum dan benang. Anggi langsung dong menyambar rejeki itu dan menanyakan berapa harga yang harus ia bayar. Tapi, sang penjaga WC memang berhati mulia, dia memberikannya secara cuma-cuma. Hari gini masih banyak juga tenyata orang yang baik hati seperti bapak penjaga WC...

Diantara kita berempat, Dianalah yang jago jahit. Kami serahkan tas Anggi di tangannya. Dengan kelihaiannya Diana menggarap tas Anggi yang sudah sekarat itu...

Ini dia gambarnya: tetep ngeksis lagi jait juga...


Photo by: Elung